Dari Didikan Sang Ibu hingga Jadi Kapten Timnas Indonesia, Kisah Jay Idzes Tembus Panggung Serie A

Kerja keras dan konsistensi membawa Jay Idzes menembus level tertinggi sepak bola Italia. Bek Timnas Indonesia itu kini menjelma menjadi sosok penting di Serie A setelah menunjukkan performa solid dalam beberapa musim terakhir.

Kariernya mulai menanjak saat memperkuat Venezia pada periode 2023 hingga 2025. Penampilan konsistennya di lini belakang menarik perhatian Sassuolo yang kemudian merekrutnya dan memberinya peran penting di tim utama.

Bersama Sassuolo, pemain kelahiran Mierlo, Belanda, itu berkembang pesat di bawah arahan Fabio Grosso. Ia menjadi pilihan utama di jantung pertahanan dan tampil sebagai salah satu pilar penting tim.

Kesuksesan tersebut tentu tidak diraih secara instan. Sebelum berkiprah di Italia, Jay Idzes lebih dulu meniti karier di Belanda dengan fondasi kuat sejak usia dini.

Perjalanan Panjang dari Akademi PSV

Jay Idzes mulai mengenal sepak bola sejak usia sangat muda. Bakatnya kemudian membawanya bergabung dengan akademi PSV Eindhoven, tempat ia ditempa secara teknis dan mental.

“Saya sudah bermain sepak bola sejak usia empat atau lima tahun. Seperti banyak anak lainnya, mimpi saya adalah menjadi pemain profesional,” ujar Idzes.

Ia menghabiskan sekitar lima tahun di akademi tersebut, menjalani rutinitas latihan yang intens sejak usia dini.

“Saya sekolah seperti biasa, tapi juga berlatih sepak bola. Saya ditemukan PSV saat usia sembilan tahun dan berlatih dari pagi hingga siang hari,” kenangnya.

Pengalaman di akademi menjadi fondasi penting yang membentuk karakter permainan serta etos kerjanya.

Peran Besar di Timnas Indonesia

Setelah meninggalkan PSV, karier Idzes berlanjut ke beberapa klub Belanda seperti FC Eindhoven dan Go Ahead Eagles. Pengalaman tersebut menjadi batu loncatan sebelum akhirnya menembus sepak bola Italia.

Di level internasional, Idzes kini mengemban peran penting sebagai kapten Timnas Indonesia. Ia menjadi figur pemimpin di lapangan dan tampil konsisten dalam berbagai ajang internasional.

Perannya semakin krusial di tengah jadwal padat sepanjang 2026, termasuk FIFA Matchday hingga ASEAN Cup.

Sosok Ibu yang Jadi Inspirasi

Di balik kesuksesannya, Idzes tak melupakan sosok paling berpengaruh dalam perjalanan awalnya: sang ibu.

“Ibuku adalah pelatih pertamaku. Jika kamu bertanya kepadanya, dia akan bilang aku belajar segalanya darinya,” ungkap Idzes.

Menurutnya, sang ibu memiliki kecintaan besar terhadap sepak bola, sesuatu yang tidak biasa pada masa itu, dan hal tersebut memberi pengaruh besar dalam hidupnya.

“Dia sangat menyukai sepak bola. Saya baru benar-benar menyadari itu ketika berusia 15 atau 16 tahun,” tambahnya.

Idzes juga menegaskan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Dibutuhkan kerja keras dan konsistensi dalam setiap proses.

“Jika saya ingin sukses, saya harus memberikan segalanya setiap hari. Saya harus berlatih keras, dan itu selalu tertanam dalam pikiran saya,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai