Sepuluh tahun lalu, Leicester City menorehkan salah satu kisah paling ajaib dalam sejarah sepak bola dengan menjuarai Premier League musim 2015/16 dengan odds 5.000-1. Namun kini, dunia menyaksikan sisi lain dari perjalanan itu—kejatuhan yang begitu tajam hingga harus terlempar ke League One.
Kepastian degradasi ke divisi ketiga datang setelah hasil imbang 2-2 melawan Hull City. Sebuah hasil yang menjadi simbol betapa jauhnya The Foxes terseret dari masa kejayaan mereka.
Perjalanan Leicester dalam satu dekade terakhir ibarat roller coaster emosi. Dari mengangkat trofi liga, tampil di Liga Champions melawan tim besar Eropa, hingga kehilangan sosok penting seperti Vichai Srivaddhanaprabha yang meninggal tragis dalam kecelakaan helikopter pada 2018. Kepergian sang pemilik menjadi titik balik yang dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Secara performa, penurunan Leicester terjadi perlahan namun pasti. Meski sempat meraih Piala FA pada 2021 di bawah asuhan Brendan Rodgers, tanda-tanda kemunduran mulai terlihat akibat minimnya investasi dan inkonsistensi tim. Bahkan setelah Rodgers pergi, situasi justru semakin memburuk.
Dalam tiga tahun terakhir, Leicester mengalami kekacauan manajerial dengan silih bergantinya pelatih tanpa arah yang jelas. Nama-nama seperti Dean Smith, Enzo Maresca, Steve Cooper, hingga Ruud van Nistelrooy datang dan pergi tanpa mampu mengangkat performa tim secara konsisten.
Masalah tidak hanya terjadi di lapangan. Dari sisi finansial, Leicester juga menghadapi tekanan besar. Klub dilaporkan mengalami kerugian puluhan juta pound dan sempat terkena pengurangan poin akibat pelanggaran aturan keuangan. Beban gaji yang tinggi, bahkan melebihi pendapatan, menjadi masalah serius—terutama saat harus turun kasta ke League One yang memiliki batasan pengeluaran ketat.
Situasi semakin rumit dengan banyaknya pemain bergaji tinggi yang masih terikat kontrak. Di sisi lain, pendapatan klub akan menurun drastis karena hilangnya hak siar besar dari Premier League.
Kini, di bawah kepemimpinan Aiyawatt Srivaddhanaprabha, Leicester menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah modern mereka: membangun kembali klub dari keterpurukan, baik secara finansial maupun identitas permainan.
Kisah Leicester City adalah pengingat bahwa dalam sepak bola, kejayaan bisa datang secepat kilat—dan hilang dengan cara yang sama cepatnya. Dari dongeng terindah menjadi kenyataan pahit, The Foxes kini harus memulai ulang dari bawah.
