Persib Vs Persija BRI Super League 2025/2026
Pemain Persib Bandung, Beckham Putra (kanan), berebut bola dengan pemain Persija Jakarta, Allano De Souza Lima, dalam laga BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Minggu (11/01/2026). (Bola.com/Abdul Aziz)
Bola.com, Jakarta – Laga panas bertajuk El Clasico Indonesia antara Persija Jakarta dan Persib Bandung kembali tidak dapat digelar di Jakarta. Persija selaku tuan rumah harus merelakan pertandingan dipindahkan ke Stadion Segiri, Samarinda, pada Sabtu (10/5/2026).
Keputusan tersebut diambil setelah PSSI, PT Liga Indonesia Baru (I-League), dan pihak keamanan tidak mencapai kesepakatan terkait pelaksanaan pertandingan di ibu kota. Seluruh opsi stadion di Jakarta, termasuk Stadion Utama Gelora Bung Karno dan Jakarta International Stadium, tidak mendapatkan izin final.
Pemindahan mendadak ini langsung memicu reaksi dari publik sepak bola nasional, terutama karena laga tersebut merupakan salah satu pertandingan paling bergengsi di Indonesia.
Suporter Persija kembali harus menelan kekecewaan. Harapan untuk menyaksikan langsung El Clasico di Jakarta pupus, meski sudah menunggu sejak terakhir kali laga ini digelar di ibu kota pada 2019.
Pertemuan terakhir Persija vs Persib di Jakarta terjadi pada 10 Juli 2019 di SUGBK, yang berakhir imbang 1-1. Sejak saat itu, Jakarta belum lagi menjadi tuan rumah laga klasik tersebut.
Pemerhati Sepak Bola: Masalah Lama yang Berulang
Pemerhati sepak bola nasional, Ophan Lamara, menyebut situasi ini sebagai masalah klasik yang terus berulang tanpa solusi nyata.
“Masalah klise. PSSI, PT LIB, dan Polri seperti tidak bisa menemukan solusi. Aparat keamanan kita juga tidak berani mengambil risiko,” ujar Ophan kepada Bola.com.
Ia menilai ada ironi dalam keputusan ini, mengingat laga di Jawa Barat sebelumnya dapat berjalan tanpa kendala berarti.
“Di Jawa Barat bisa aman, tapi di Jakarta justru tidak bisa. Ini menunjukkan ada masalah yang belum selesai,” tambahnya.
Sepak Bola Butuh Dukungan Negara
Lebih jauh, Ophan menegaskan bahwa akar persoalan bukan hanya pada teknis keamanan, tetapi juga pada kurangnya perhatian serius terhadap sepak bola sebagai agenda nasional.
Menurutnya, tanpa komitmen penuh dari negara dan seluruh pemangku kepentingan, situasi serupa akan terus terjadi.
“Sepak bola kita ini begini-begini saja sejak dulu. Negara harus menempatkan sepak bola sebagai agenda nasional. Dengan begitu, semua stakeholder, terutama kepolisian, bisa memberikan dukungan penuh,” pungkasnya.
