Kongres ke-76 FIFA yang berlangsung di Vancouver pada Kamis (30/4/2026) waktu setempat menjadi sorotan dunia. Agenda besar ini dihadiri oleh 211 negara anggota federasi sepak bola internasional sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia FIFA 2026 yang akan segera digelar.
Forum tersebut sejatinya menjadi ajang penting untuk membahas berbagai aspek teknis dan non-teknis menjelang turnamen terbesar sepak bola dunia. Namun, di balik suasana resmi, muncul dinamika yang cukup menyita perhatian publik internasional.
Salah satu kejadian yang mencuri sorotan adalah absennya delegasi dari Iran. Ketidakhadiran tersebut bukan tanpa sebab, melainkan dipicu oleh persoalan administratif yang cukup sensitif. Tiga perwakilan Iran dilaporkan tidak mendapatkan izin masuk ke wilayah Kanada karena kendala visa.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, penolakan tersebut diduga berkaitan dengan sosok ketua federasi sepak bola Iran, Mehdi Taj. Ia disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), sebuah entitas yang masuk dalam daftar organisasi dengan pengawasan ketat di sejumlah negara, termasuk Kanada.
Situasi ini memunculkan perbincangan hangat di antara peserta kongres, mengingat forum FIFA seharusnya menjadi ruang netral bagi seluruh anggota. Meski demikian, pihak penyelenggara tetap melanjutkan rangkaian agenda sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Kongres ini pada akhirnya tidak hanya menjadi panggung pembahasan sepak bola global, tetapi juga memperlihatkan bagaimana dinamika politik internasional masih memiliki pengaruh kuat dalam dunia olahraga
