BRI Super League menggunakan aturan head-to-head untuk menentuka

BRI Super League menggunakan aturan head-to-head untuk menentukan peringkat jika ada dua tim atau lebih memiliki jumlah poin yang sama.

Regulasi ini sudah diterapkan sejak 2014 dan kerap menjadi penentu dalam momen-momen krusial, baik dalam perebutan gelar juara maupun penentuan degradasi.

Salah satu contoh paling menonjol terjadi pada musim 2017. Saat itu, Bhayangkara FC keluar sebagai juara meski memiliki poin yang sama dengan Bali United, yakni 68 poin. Bali United sebenarnya unggul selisih gol (+38 berbanding +21), namun kalah dalam rekor pertemuan setelah takluk 1-3 dan 2-3 dari Bhayangkara FC. Faktor head-to-head inilah yang memastikan The Guardians menjadi kampiun.

Contoh lain terjadi pada musim 2021/2022, namun dalam konteks perebutan posisi aman dari degradasi. Barito Putera dan Persipura Jayapura sama-sama mengoleksi 36 poin. Barito unggul dalam rekor pertemuan (1-0 dan 3-0), sekaligus memiliki selisih gol yang lebih baik (-8 berbanding -11). Hasil tersebut membuat Barito Putera bertahan di kasta tertinggi, sementara Persipura harus turun kasta.

Dengan sistem ini, setiap pertemuan langsung antar tim menjadi sangat krusial karena bisa menentukan posisi akhir di klasemen, bukan sekadar selisih gol.

Mungkin Anda Menyukai