Kegagalan Buriram United di ajang AFC Champions League Elite 2025/2026 menjadi pukulan yang cukup berat, namun sekaligus membuka peluang baru bagi tim asal Thailand tersebut untuk mengalihkan fokus ke kompetisi lain. Setelah tersingkir di babak perempat final, Buriram kini dihadapkan pada misi untuk bangkit dan membuktikan kualitas mereka di ajang regional berikutnya.
Langkah Buriram terhenti usai kalah tipis 2-3 dari wakil Uni Emirat Arab, Shabab Al Ahli, dalam pertandingan yang berlangsung ketat dan penuh drama. Laga tersebut memperlihatkan betapa sengitnya persaingan di level tertinggi sepak bola Asia, di mana kesalahan kecil bisa berujung fatal.
Tim lawan tampil efektif sejak awal pertandingan. Gol pembuka justru datang dari situasi yang kurang menguntungkan bagi Buriram, yakni gol bunuh diri yang melibatkan Peter Zulj pada menit ke-14. Keunggulan Shabab Al Ahli kemudian diperbesar melalui gol dari Saeid Ezatolahi di menit ke-50, yang memanfaatkan kelengahan lini pertahanan Buriram.
Meski tertinggal dua gol, Buriram United tidak menyerah begitu saja. Mereka mulai menunjukkan perlawanan di babak kedua. Gol dari Bissoli pada menit ke-65 membangkitkan harapan. Tak lama berselang, Peter Zulj menebus kesalahannya dengan mencetak gol penyeimbang pada menit ke-71, membuat skor menjadi 2-2 dan pertandingan kembali terbuka.
Namun, saat laga tampak akan berlanjut ke babak tambahan, Shabab Al Ahli memastikan kemenangan lewat gol dramatis dari Renan pada menit ke-94. Gol di detik-detik akhir tersebut menjadi penentu sekaligus mengakhiri perjalanan Buriram di kompetisi ini.
Kekalahan ini tentu menjadi evaluasi penting bagi skuad yang juga diperkuat oleh Sandy Walsh. Secara permainan, Buriram sebenarnya mampu memberikan perlawanan seimbang, namun kurangnya konsentrasi di momen krusial menjadi faktor utama kegagalan mereka melangkah lebih jauh.
Kini, dengan tersingkirnya mereka dari ACL Elite, Buriram United memiliki kesempatan untuk mengalihkan fokus sepenuhnya ke ajang ACC. Kompetisi tersebut bisa menjadi panggung pembuktian sekaligus peluang meraih gelar untuk menebus kekecewaan.
Ke depan, konsistensi permainan, kedisiplinan di lini belakang, serta ketajaman di lini depan akan menjadi kunci jika Buriram ingin kembali tampil kompetitif. Kekalahan ini bisa menjadi pelajaran berharga, bukan akhir dari perjalanan mereka.
