Tottenham Hotspur kini berada dalam pusaran krisis serius setelah menelan kekalahan kandang dari Crystal Palace. Ribuan suporter bahkan memilih meninggalkan stadion lebih awal sebagai bentuk protes terhadap performa buruk tim.
Kekalahan memalukan pada Jumat (6/3/2026) dini hari tersebut membuat posisi Spurs semakin terjepit di papan bawah klasemen Premier League. Saat ini mereka hanya terpaut satu poin dari zona degradasi.
Situasi ruang ganti juga semakin tidak kondusif setelah manajer interim Igor Tudor gagal memberikan dampak positif. Tudor menelan tiga kekalahan beruntun sejak menggantikan Thomas Frank yang sebelumnya dipecat.
Padahal, Tottenham adalah juara bertahan UEFA Europa League musim lalu. Namun dalam hitungan bulan, kejayaan tersebut berubah menjadi ancaman nyata bagi eksistensi klub.
Warisan Masalah dari Era Daniel Levy
Mantan petinggi klub, Daniel Levy, kerap menjadi sasaran kritik tajam atas kemunduran prestasi Tottenham. Meski berhasil membangun stadion megah, ia dinilai gagal memberikan dukungan finansial yang cukup untuk memperkuat skuad.
Levy dianggap terlalu berhati-hati dalam mendatangkan pemain kelas dunia untuk menunjang strategi para pelatih top yang ia pekerjakan. Akibatnya, Spurs kesulitan bersaing secara konsisten dengan klub elite Liga Inggris.
Mantan kiper Tottenham, Paul Robinson, menilai masalah klub sebenarnya telah menumpuk selama bertahun-tahun.
“Masalah ini sudah menumpuk lama. Anda bisa menghindarinya untuk sementara, tetapi pada akhirnya Anda akan jatuh juga,” ujar Robinson.
Menurutnya, Levy memang sempat menunjuk pelatih dengan mentalitas juara seperti Jose Mourinho dan Antonio Conte. Namun, keduanya tidak mendapatkan skuad yang benar-benar siap bersaing memperebutkan trofi.
Misteri Gagalnya Para Pelatih Top
Sepanjang sejarah modern klub, Tottenham telah mencoba berbagai profil pelatih untuk mengangkat prestasi. Namun sejumlah nama besar seperti Mourinho hingga Conte justru gagal memenuhi ekspektasi.
Robinson menilai ada masalah mendasar di tubuh manajemen klub yang membuat pelatih-pelatih sukses di tempat lain kehilangan sentuhannya saat melatih Spurs.
“Ada sesuatu yang secara fundamental salah di klub itu,” kata Robinson.
“Pelatih yang terbiasa menang di tempat lain tiba-tiba tidak bisa meraih sukses ketika berada di Spurs. Itu yang harus dipertanyakan.”
Ramalan Antonio Conte yang Kini Terbukti
Kritik keras terhadap budaya klub sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Antonio Conte sebelum ia meninggalkan Tottenham.
Pelatih asal Italia tersebut menilai Tottenham tidak memiliki mentalitas juara yang kuat selama bertahun-tahun.
“Cerita Tottenham adalah ini: selama 20 tahun dengan pemilik yang sama, mereka tidak pernah memenangkan apa pun. Mengapa?” kata Conte.
Ia juga mempertanyakan apakah kegagalan selalu harus dibebankan kepada pelatih, sementara masalah yang lebih besar mungkin berada di level manajemen.
Lini Serang Melemah Setelah Ditinggal Para Bintang
Keterpurukan Tottenham musim ini juga dipicu oleh keputusan transfer yang dianggap sebagai blunder besar.
Klub kehilangan sejumlah pemain kunci seperti Harry Kane yang hengkang ke Bayern Munich serta Son Heung-min yang memilih melanjutkan karier di Amerika Serikat.
Selain itu, Brennan Johnson juga telah dilepas, sehingga Spurs kehilangan tiga pencetak gol utama mereka dalam beberapa musim terakhir.
Robinson menegaskan bahwa kehilangan tiga pemain produktif sekaligus membuat daya gedor tim menurun drastis.
Badai Cedera dan Rekrutmen yang Belum Berhasil
Masalah Tottenham semakin kompleks setelah dua pemain kreatif mereka, James Maddison dan Dejan Kulusevski, harus menepi akibat cedera.
Maddison bahkan mengalami cedera ACL yang membuatnya absen panjang sejak pramusim.
Sementara itu, rekrutan baru seperti Xavi Simons dan Mohammed Kudus belum mampu memberikan kontribusi maksimal karena masalah kebugaran serta proses adaptasi.
Tottenham juga gagal merekrut target utama mereka seperti Eberechi Eze dan Morgan Gibbs-White.
Manajemen Baru dan Keputusan yang Dipertanyakan
Kini tekanan besar berada di pundak CEO baru Vinai Venkatesham serta Direktur Olahraga Johan Lange.
Penunjukan Igor Tudor sebagai pelatih interim dianggap banyak pihak sebagai keputusan panik dari manajemen klub.
Selain itu, keputusan memecat Thomas Frank dinilai datang terlambat sehingga membuat situasi tim semakin sulit dikendalikan.
Ancaman Kerugian Finansial Hingga Rp5 Triliun
Jika Tottenham benar-benar terdegradasi ke Championship, dampak ekonominya diperkirakan akan sangat besar.
Pendapatan klub diprediksi bisa anjlok hingga sekitar 261 juta poundsterling atau hampir Rp5 triliun.
Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai degradasi akan menjadi pukulan berat bagi klub sebesar Tottenham.
“Untuk klub dengan skala finansial seperti Spurs, degradasi bukan sekadar kemunduran olahraga jangka pendek,” kata Maguire.
Menurutnya, struktur ekonomi sepak bola Inggris membuat proses pemulihan dari degradasi bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Masa Depan Tottenham di Ujung Tanduk
Jika skenario terburuk terjadi, para pemain Tottenham kemungkinan harus menerima pemotongan gaji hingga 50 persen sesuai klausul kontrak mereka.
Di sisi lain, biaya operasional stadion megah Tottenham tetap tinggi, sementara pemasukan klub bisa merosot tajam.
Kini sembilan pertandingan tersisa akan menjadi penentu nasib klub London Utara tersebut.
Apakah Tottenham mampu bangkit dari krisis, atau justru benar-benar terjerumus ke jurang degradasi?
