Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, kembali angkat bicara terkait hukuman yang dijatuhkan Komite Disiplin FIFA kepadanya. Ia mengaku terkejut dengan beratnya sanksi tersebut.
Sumardji dijatuhi larangan mendampingi Timnas Indonesia selama 20 pertandingan resmi FIFA. Selain itu, ia juga dikenai denda sebesar 15.000 franc Swiss atau sekitar Rp324 juta.
Sanksi tersebut berkaitan dengan insiden seusai laga Timnas Irak melawan Timnas Indonesia pada 11 Oktober 2025 di Arab Saudi. Dalam pertandingan itu, Indonesia kalah 0-1 dan gagal melaju ke Piala Dunia 2026.
Terkejut dengan Beratnya Hukuman
Sumardji mengaku tidak menyangka hukuman yang dijatuhkan mencapai 20 pertandingan resmi.
“Kalau kaitannya dengan sanksi, jujur saya juga kaget. Kaget sekali kenapa sampai 20 pertandingan di event FIFA, pertandingan resmi,” ujar Sumardji kepada wartawan.
Ia menilai hukuman tersebut cukup memberatkan, meski tetap mengakui kesalahannya.
“Ini cukup memberatkan dan saya juga kaget. Saya pikir mungkin saya tidak perlu membantah soal itu, oke saya salah. Tetapi yang ingin saya lakukan hanya melindungi pemain,” tambahnya.
Tindakan Spontan di Lapangan
Sumardji menjelaskan bahwa tindakannya terjadi secara spontan saat melihat situasi di lapangan. Ia merasa perlu bertindak cepat untuk mencegah potensi kartu merah yang bisa merugikan tim.
“Waktu itu saya melihat wasit seperti mencari celah untuk memberi kartu merah. Jadi saya langsung menghalangi dengan tangan. Ya, itu risiko. Memang risiko membawa tim,” tegasnya.
Ia mengibaratkan perannya sebagai sosok orang tua bagi para pemain Timnas Indonesia.
“Saya mengibaratkan diri saya sebagai orang tua. Saya harus bisa mengamankan, melindungi, dan mengayomi anak-anak saya,” ucap Sumardji.
Tetap Berkontribusi Meski Dilarang di Bench
Sumardji menegaskan bahwa sanksi tersebut hanya melarangnya berada di bangku cadangan saat pertandingan. Ia masih bisa memberikan dukungan di luar area teknis.
“Tidak ada masalah bagi saya. Yang penting saya tetap bisa memberikan dukungan dan kontribusi kepada Timnas Indonesia. Saya hanya tidak boleh di bench atau masuk ruang ganti,” jelasnya.
Saat insiden terjadi, Sumardji masih menjabat sebagai manajer Timnas Indonesia. Namun, pada akhir Desember 2025 ia mundur dari posisi tersebut setelah hasil kurang memuaskan di SEA Games 2025.
