PSSI kembali membuat langkah besar dengan menunjuk John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Keputusan ini diambil sebagai upaya membawa Skuad Garuda terbang lebih tinggi di level internasional, dengan target jangka menengah menembus jajaran elite Asia. Nama Herdman tentu bukan pilihan sembarangan, mengingat rekam jejaknya yang mentereng saat mengembalikan Kanada ke panggung Piala Dunia.
Penunjukan pelatih asal Inggris ini membangkitkan memori lama publik sepak bola nasional akan aroma Britania Raya. Indonesia pernah memiliki ikatan emosional kuat dengan pelatih dari Negeri Raja Charles, sosok yang tak lain adalah Peter Withe, legenda yang menukangi Timnas Indonesia pada periode 2004–2007.
Kehadiran Herdman pun memunculkan harapan sekaligus tanda tanya. Apakah gaya bermain berbasis fisik dan kecepatan khas Inggris akan kembali menjadi identitas Skuad Garuda? Ataukah ia membawa pendekatan modern yang lebih adaptif terhadap karakter pemain Indonesia saat ini?
Tugas berat kini berada di pundak pelatih yang dikenal sebagai motivator ulung tersebut. Herdman tidak hanya dituntut menghadirkan prestasi yang telah lama dinantikan, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan dinamika dan tekanan sepak bola Indonesia yang unik. Ekspektasi publik yang begitu tinggi akan menjadi ujian awal untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pilihan tepat.
Misi Melampaui Warisan Peter Withe
Membicarakan pelatih Inggris di Indonesia hampir mustahil tanpa menyebut nama Peter Withe. Pada masanya, Withe sukses membawa Timnas Indonesia tampil impresif di Piala Tiger 2004 (kini Piala AFF), dengan produktivitas gol luar biasa meski akhirnya harus puas sebagai runner-up. Ia menanamkan fondasi kedisiplinan dan mental menyerang yang hingga kini masih dikenang.
John Herdman datang dengan profil berbeda, namun memiliki kesamaan dalam hal ambisi besar. Jika Withe bersinar di level Asia Tenggara, Herdman telah membuktikan kapasitasnya di panggung dunia. Pengalamannya membangun sistem dari nol dan mengelola pemain bintang bersama Kanada menjadi modal berharga bagi Timnas Indonesia yang kini dihuni banyak talenta muda dan pemain diaspora.
Dalam sesi perkenalan, Ketua Umum PSSI menyampaikan keyakinannya terhadap pelatih baru ini.
“Ini adalah momen di mana sepak bola Indonesia memasuki era baru, ditangani pelatih dengan pengalaman membawa tim lolos ke Piala Dunia,” ujarnya.
Taktik Modern dan Harapan Baru
Herdman dikenal sebagai pelatih dengan fleksibilitas taktik tinggi, namun tetap menekankan intensitas permainan. Karakter tersebut sejalan dengan tuntutan sepak bola modern yang mengedepankan transisi cepat dan disiplin kolektif.
Skuad Garuda membutuhkan figur yang mampu menyatukan potensi pemain lokal dan pemain keturunan yang berkarier di luar negeri. Tantangan terdekat Herdman adalah membangun chemistry di ruang ganti agar ide dan instruksinya dapat diterjemahkan secara maksimal di lapangan.
Jika ia mampu memadukan disiplin ala Inggris dengan kreativitas khas pemain Indonesia, bukan tidak mungkin babak baru dalam sejarah Timnas Indonesia akan tercipta. Untuk saat ini, publik hanya perlu bersabar dan memberikan dukungan penuh kepada sang nakhoda baru.
Peter Withe dan Warisan Agresivitas Gol
Di sisi lain, era Peter Withe tetap menyisakan nostalgia kuat. Selama menangani Indonesia pada 2004–2007, ia memimpin sekitar 28 laga resmi dengan persentase kemenangan 42,86 persen. Angka tersebut perlu dilihat dalam konteks keterbatasan infrastruktur sepak bola Indonesia pada masa itu.
Salah satu capaian paling dikenang dari era Withe adalah produktivitas gol di Piala Tiger 2004. Indonesia mencetak 22 gol dalam satu turnamen—sebuah rekor yang menegaskan tajamnya lini serang Merah Putih kala itu. Withe sukses menanamkan mentalitas menyerang tanpa rasa takut, siapa pun lawannya.
Legenda Aston Villa tersebut pernah merangkum filosofinya saat pertama kali tiba di Jakarta:
“Saya ingin pemain Indonesia menyadari bahwa mereka memiliki kecepatan luar biasa. Tugas saya adalah memastikan kecepatan itu digunakan untuk menghancurkan pertahanan lawan.”
Kini, tongkat estafet telah berpindah. Dari Peter Withe ke John Herdman, publik menanti satu hal yang sama: kapan penantian panjang itu benar-benar berakhir.
