Sempat Diperingatkan Sebelum Gabung Manchester United

Kiper muda Senne Lammens mengakui dirinya sempat mendapat peringatan sebelum menerima tawaran bergabung dengan Manchester United pada hari terakhir bursa transfer musim panas lalu.

Didatangkan dari Royal Antwerp dengan nilai transfer 18,1 juta poundsterling, Lammens — yang saat itu belum memiliki caps bersama timnas senior Belgia — langsung masuk ke salah satu posisi paling penuh tekanan di sepak bola: penjaga gawang utama di Old Trafford.

Ia tak menampik bahwa ekspektasi terhadap klub sebesar United memang luar biasa.

“Mereka sedikit memperingatkan saya sebelumnya. Mereka bilang Manchester United itu berbeda, terutama soal media sosial,” ujarnya.
“Ini salah satu klub terbesar, bahkan mungkin yang terbesar.”


Pembuktian di Bawah Tekanan

Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa musim terakhir, posisi penjaga gawang United kerap menjadi sorotan.

Pendahulunya, Andre Onana, sempat melakukan kesalahan krusial di ajang Carabao Cup. Sementara Altay Bayindir juga pernah melakukan blunder saat menghadapi Arsenal di awal musim.

Namun Lammens merespons tekanan dengan performa yang stabil. Pada debutnya melawan Sunderland bulan Oktober lalu, ia bahkan mendapat nyanyian “Are you Schmeichel in disguise?” dari tribun Stretford End setelah melakukan penyelamatan meyakinkan dari situasi sepak pojok.

Momen itu menjadi sinyal awal bahwa ia mampu menjawab ekspektasi publik.


Filosofi: Konsistensi di Atas Segalanya

Berbeda dengan sebagian kiper modern yang tampil flamboyan, Lammens memilih pendekatan yang lebih sederhana dan minim risiko.

Ia banyak berdiskusi dengan kiper senior Tom Heaton, yang menjadi mentor pentingnya di ruang ganti.

Baginya, menjadi kiper hebat bukan semata soal penyelamatan spektakuler.

“Terkadang bukan soal melakukan hal besar, tapi soal tidak memberikan pertandingan kepada lawan. Tetap fokus dan tidak memberi kesalahan mudah. Itu juga kebanggaan tersendiri.”

Statistik mendukung pernyataannya. Hingga kini, ia belum melakukan satu pun kesalahan yang berujung gol di Premier League — kontras dengan beberapa nama senior, termasuk Emiliano Martínez yang sempat dikaitkan dengan United.


Peran Penting Tony Coton

Keputusan United merekrut Lammens tak lepas dari rekomendasi Tony Coton, pencari bakat kiper klub yang juga bagian dari staf era Alex Ferguson.

Lammens mengaku memiliki hubungan yang baik dengan Coton sejak awal negosiasi dan merasa diyakinkan bahwa kepindahan ke Old Trafford adalah langkah tepat untuk perkembangan kariernya.

“Semua yang dia katakan menjadi kenyataan. Dia memberi saya kepercayaan diri bahwa ini adalah langkah yang benar.”


Tetap Rendah Hati di Tengah Sorotan

Meski kini berstatus kiper utama United, Lammens tetap menjaga gaya hidup sederhana. Ia masih menyempatkan diri mengunjungi sekolah lokal di Partington dalam rangka World Book Day sebelum kembali ke Carrington untuk sesi pemulihan tambahan.

Bahkan setelah sesi wawancara selesai pukul 16.20 waktu setempat, dua jam kemudian ia masih berada di pusat latihan.

Sorotan publik pun mulai datang. Ia sempat tertangkap kamera paparazi saat makan malam di The Ivy, Manchester — pengalaman yang menurutnya terasa “aneh tapi lucu”.


Menunggu Giliran di Timnas Belgia

Di level internasional, Lammens kemungkinan masih harus bersabar. Posisi kiper utama Belgia saat ini masih ditempati Thibaut Courtois dari Real Madrid.

Menariknya, ketika Courtois tampil di Piala Dunia 2014, Lammens baru berusia 12 tahun.

Idola masa kecilnya adalah Manuel Neuer. Dari kiper Jerman itu, ia belajar tentang pentingnya menjadi penjaga gawang komplet tanpa kelemahan mencolok.

“Saya mencoba belajar dari semua orang. Tapi kalau soal permainan menyeluruh, mungkin Neuer.”


Dampak Michael Carrick

Di bawah arahan pelatih anyar Michael Carrick, suasana ruang ganti United disebutnya sangat positif. Dalam enam pekan awal kepemimpinan Carrick, tim belum tersentuh kekalahan dan sukses membangun momentum, termasuk kemenangan penting atas Manchester City dan Arsenal.

Lammens memuji pendekatan Carrick yang komunikatif dan memahami tekanan pemain karena pernah berada di situasi serupa saat masih aktif bermain.

“Dia membantu kami dengan sangat baik. Cara dia berbicara menunjukkan bahwa dia pernah melalui semua yang kami alami. Saya tidak bisa cukup memujinya.”


Datang sebagai sosok yang relatif belum dikenal, Senne Lammens kini menjelma menjadi figur yang dapat diandalkan di bawah mistar Manchester United.

Diperingatkan soal besarnya tekanan? Ya.
Namun sejauh ini, ia menjawabnya bukan dengan banyak kata — melainkan lewat ketenangan dan konsistensi di atas lapangan.

Mungkin Anda Menyukai