Real Madrid Tak Sepenuhnya Tenang Saat Tekuk Levante, Debut Kandang Arbeloa Diwarnai Tekanan

Jakarta – Kemenangan Real Madrid atas Levante di Santiago Bernabeu tak sepenuhnya menghadirkan suasana nyaman. Laga ini menjadi penampilan pertama Alvaro Arbeloa di kandang sebagai pelatih utama, dan meski berakhir dengan skor 2-0, tensi di tribun terasa tinggi.

Gol Kylian Mbappe dan Raul Asencio pada paruh kedua memastikan Madrid mengamankan tiga angka pada Sabtu (17/1/2025). Namun sejak awal pertandingan, sebagian suporter melontarkan seruan yang ditujukan kepada Presiden klub Florentino Perez agar mundur dari jabatannya. Situasi tersebut membuat atmosfer stadion jauh dari kata kondusif.

Arbeloa, yang baru saja menggantikan Xabi Alonso, harus menghadapi debut yang tidak ideal. Di tengah kemenangan, fokus publik justru tertuju pada ketegangan antara fans dan jajaran manajemen klub.

Pergantian Pelatih Usai Kekalahan di Supercopa

Gejolak bermula dari hasil pahit Real Madrid di ajang Supercopa de Espana. Kekalahan 2-3 dari Barcelona menjadi titik balik yang membuat manajemen mengambil langkah tegas dengan mengakhiri kerja sama bersama Xabi Alonso.

Meski Madrid sempat bangkit lewat gol Vinicius Junior dan Gonzalo Garcia, gol penentu Raphinha di babak kedua memastikan Barcelona keluar sebagai juara. Dalam pernyataan resminya, klub tetap memberikan penghormatan kepada Alonso sebagai figur penting dan legenda Madrid, namun hasil di laga krusial dianggap tak bisa ditoleransi.

Arbeloa kemudian dipercaya memimpin tim utama, meski harus langsung berhadapan dengan tekanan besar dari berbagai arah.

Arbeloa Kritik Aksi Suporter

Usai pertandingan kontra Levante, Arbeloa tak menutupi kekecewaannya terhadap nyanyian protes yang menggema di stadion. Ia menilai aksi tersebut tidak mencerminkan kecintaan sejati pada klub.

“Itu bukan suara orang yang tidak menyukai Florentino, tapi suara mereka yang tidak benar-benar mencintai Real Madrid,” ujar Arbeloa seperti dikutip dari Goal.com.

Menurutnya, Perez adalah sosok kunci dalam sejarah modern klub. Arbeloa juga menduga adanya kepentingan tertentu di balik aksi tersebut. Padahal sebelumnya ia telah mengimbau suporter untuk fokus mendukung tim. Situasi semakin pelik karena beberapa pemain seperti Vinicius Junior, Jude Bellingham, dan Federico Valverde ikut menjadi sasaran ejekan. Mbappe bahkan terlihat mencoba meredakan suasana dengan gestur ke arah tribun.

Bela Vinicius, Madrid Alihkan Fokus ke Eropa

Di tengah kritik yang mengarah ke pemain, Arbeloa memberikan pembelaan tegas kepada Vinicius Junior.

“Vinicius adalah salah satu pemain paling berbahaya di dunia. Saya bangga melatihnya,” katanya.

Ia menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan potensi seluruh skuad. Tambahan tiga poin membuat Madrid kini hanya terpaut satu angka dari Barcelona di klasemen. Namun, perhatian tim tak berlama-lama tertuju ke liga domestik. Tantangan berikutnya sudah menanti di Liga Champions, saat Los Blancos akan menghadapi Monaco. Bagi Arbeloa, laga tersebut menjadi ujian lanjutan untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih di tengah tekanan besar.

Mungkin Anda Menyukai