Play-off Interkontinental Piala Dunia 2026 Terancam Kacau: Irak di Tengah Krisis Perang Timur Tengah

 Persiapan menuju Piala Dunia FIFA 2026 kembali diliputi ketidakpastian. Kali ini, sorotan tertuju pada babak play-off interkontinental yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Maret 2026.

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat penyelenggaraan fase krusial tersebut dipertanyakan. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu dampak luas yang turut menyentuh dunia sepak bola.

Irak menjadi salah satu negara yang terdampak langsung. Penutupan wilayah udara serta berbagai pembatasan perjalanan membuat persiapan tim nasional mereka menjadi jauh lebih rumit.

Kondisi tersebut memunculkan keraguan besar terhadap kelancaran play-off interkontinental Piala Dunia 2026. Padahal, turnamen mini itu akan menentukan tiket terakhir menuju panggung sepak bola terbesar di dunia.

Konflik Timur Tengah Mengganggu Persiapan Play-off

Babak play-off antar-konfederasi dijadwalkan berlangsung di Meksiko pada 26–31 Maret 2026. Enam tim dari lima konfederasi akan bersaing memperebutkan dua tiket terakhir menuju Piala Dunia.

Meksiko ditunjuk sebagai tuan rumah pada November lalu. Empat pertandingan rencananya digelar di dua kota besar, yakni Monterrey dan Guadalajara.

Namun situasi global berubah cepat dalam beberapa hari terakhir. Serangan militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu eskalasi konflik yang berdampak luas di kawasan Timur Tengah.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat dan Israel. Dampaknya, beberapa negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain menutup wilayah udara mereka.

Irak Terkendala Visa dan Penutupan Wilayah Udara

Irak termasuk negara yang merasakan dampak langsung dari konflik tersebut. Wilayah udara mereka dilaporkan ditutup sementara karena situasi keamanan yang tidak stabil.

Laporan dari BBC menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat bahkan meminta warganya untuk segera meninggalkan Irak. Situasi ini menambah ketidakpastian bagi aktivitas perjalanan internasional.

Timnas Irak sendiri dijadwalkan tampil pada final play-off antar-konfederasi pada 31 Maret. Mereka akan menghadapi pemenang pertandingan antara Bolivia dan Suriname.

Namun Federasi Sepak Bola Irak mengungkapkan bahwa sejumlah pemain dan staf mengalami kesulitan mendapatkan visa. Hal tersebut membuat persiapan tim menjadi jauh dari ideal.

FIFA Tetap Ingin Play-off Berjalan

Menurut laporan dari The Guardian, FIFA tetap berencana menggelar babak play-off sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Badan sepak bola dunia itu bahkan telah menyampaikan sikap tersebut kepada Federasi Sepak Bola Irak.

Meski begitu, sumber yang dekat dengan tim Irak menyebutkan masih banyak kendala yang harus diselesaikan sebelum pertandingan benar-benar dapat digelar.

Irak sebenarnya memiliki peluang besar untuk kembali tampil di Piala Dunia. Mereka belum pernah lagi bermain di turnamen tersebut sejak edisi Piala Dunia FIFA 1986, tetapi menunjukkan performa cukup baik dengan meraih 12 kemenangan dari 20 pertandingan di babak kualifikasi Asia yang diperluas.

“Saya benar-benar tidak peduli. Saya pikir Iran adalah negara yang sangat kalah telak. Mereka sudah kehabisan tenaga,” ujar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, seperti dikutip dari The Athletic.

Mungkin Anda Menyukai