Persija Jakarta menghadapi persoalan serius di BRI Super League 2025/2026. Bukan soal kualitas tim atau strategi, melainkan masalah disiplin pemain yang terus berulang di lapangan.
Hingga pekan ke-26, Macan Kemayoran tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah kartu merah terbanyak. Total delapan kartu merah sudah mereka terima, hanya kalah dari Arema FC.
Situasi ini tentu menjadi kerugian besar. Bermain dengan 10 pemain kerap membuat keseimbangan tim terganggu dan memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Masalah Kolektif yang Mengganggu Performa
Dari delapan kartu merah tersebut, beberapa pemain kunci turut menyumbang. Jordi Amat menjadi yang paling sering diusir dengan dua kartu merah. Selain itu, sejumlah pemain lain juga ikut tercatat dalam daftar pelanggaran.
Kasus terbaru terjadi saat Persija menghadapi Bhayangkara FC. Dalam kondisi skor imbang, kartu merah yang diterima membuat tim kehilangan kontrol permainan hingga akhirnya kalah 2-3.
Ini menunjukkan bahwa kartu merah bukan sekadar statistik, tetapi benar-benar berdampak langsung pada hasil pertandingan.
Bukan Hanya Kartu Merah, Kartu Kuning Juga Tinggi
Masalah disiplin Persija tidak berhenti pada kartu merah saja. Jumlah kartu kuning yang tinggi juga menjadi indikasi bahwa pola permainan keras masih menjadi kebiasaan.
Beberapa pemain bahkan masuk dalam daftar penerima kartu kuning terbanyak di liga. Hal ini memperkuat gambaran bahwa persoalan utama ada pada kontrol emosi dan cara bermain.
Ancaman untuk Ambisi Juara
Dengan kondisi ini, peluang Persija dalam perburuan gelar menjadi terancam. Mereka kini harus bersaing ketat dengan tim-tim papan atas seperti Persib Bandung dan Borneo FC.
Jika masalah disiplin tidak segera diperbaiki, bukan tidak mungkin ambisi juara akan sirna di akhir musim. Konsistensi bukan hanya soal performa, tetapi juga kemampuan menjaga emosi dan bermain dengan lebih cerdas di lapangan.
