Jakarta – Juventus harus menerima hasil kurang memuaskan saat menjamu Lecce pada lanjutan pekan ke-18 Serie A. Bermain pada Minggu (4/1) dini hari WIB, Bianconeri gagal memaksimalkan dominasi permainan setelah laga berakhir tanpa kemenangan, menyusul kegagalan penalti Jonathan David.
Kesempatan emas Juventus hadir pada menit ke-66. Wasit menghadiahi penalti setelah tembakan Jonathan David mengenai tangan Klalonda Gaspar di area terlarang. Keputusan tersebut membuka peluang besar bagi tuan rumah untuk mengamankan kemenangan.
David yang maju sebagai algojo memiliki kesempatan membawa Juventus unggul 2-1. Namun, pilihan eksekusi yang diambil justru menjadi awal petaka bagi Si Nyonya Tua.
Panenka yang Berujung Penyesalan
Jonathan David memilih mengeksekusi penalti dengan gaya panenka, sebuah teknik berisiko tinggi. Bola diarahkan ke tengah gawang, tetapi eksekusi tersebut kurang tinggi dan gagal mengecoh kiper Lecce, Wladimiro Falcone.
Meski sempat bergerak ke arah kiri, Falcone dengan sigap menjulurkan kakinya dan menepis bola. Peluang emas Juventus pun sirna, membuat suasana stadion mendadak senyap.
Kegagalan itu berdampak besar terhadap jalannya pertandingan. Juventus kehilangan momentum, sementara Lecce mampu bertahan dengan disiplin hingga laga berakhir. Penguasaan bola yang dominan pun tidak berbuah hasil maksimal.
Momen tersebut kembali memicu perdebatan mengenai risiko besar eksekusi penalti ala panenka, terutama ketika dilakukan dalam situasi krusial.
Spalletti Pasang Badan untuk Jonathan David
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menolak menyalahkan Jonathan David atas hasil tersebut. Dalam wawancara bersama DAZN, ia menegaskan bahwa persoalan utama timnya terletak pada ketajaman di depan gawang, bukan pada satu pemain saja.
“David adalah penendang penalti dan dia melakukannya dengan baik. Pilihannya benar, mengarahkan bola ke tengah, hanya saja ketinggiannya kurang,” ujar Spalletti.
Ia juga menambahkan bahwa Juventus sebenarnya memiliki beberapa opsi penendang penalti lain di dalam tim.
“Locatelli bisa mengambil penalti. Yildiz juga bisa. Keputusan itu diambil saat pertandingan berlangsung, dalam situasi penuh emosi. Hal-hal seperti ini sering terlihat berbeda jika dinilai dari luar,” tutup Spalletti.
