Jakarta – Kembalinya Michael Carrick ke Manchester United memunculkan nuansa nostalgia sekaligus pertanyaan besar. Sosok yang dulu dikenal sebagai pengatur tempo lini tengah itu kini kembali ke Old Trafford dengan peran yang jauh berbeda: pelatih kepala tim utama.
Bagi United, penunjukan Carrick adalah pertaruhan pada figur yang sudah memahami DNA klub. Bagi Carrick sendiri, ini merupakan tantangan terbesar dalam karier kepelatihannya sejauh ini, setelah pengalaman naik-turun yang ia lalui bersama Middlesbrough.
Dengan musim yang masih berjalan dan kebutuhan akan kestabilan performa, United berharap Carrick mampu memberikan arah yang jelas. Namun, rekam jejaknya menunjukkan bahwa perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus.
Perjalanan Kepelatihan: Start Kuat, Penurunan Bertahap
Karier Carrick sebagai manajer penuh waktu dimulai saat ia dipercaya menangani Middlesbrough di Championship. Ketika itu, klub berada dalam situasi genting dan membutuhkan perubahan cepat agar terhindar dari degradasi.
Respons Carrick terbilang impresif. Dalam 23 pertandingan liga pertamanya, ia mampu meraih 16 kemenangan dan mengangkat performa tim secara signifikan. Middlesbrough yang semula terpuruk menjelma menjadi kandidat promosi, dengan gaya bermain dominan dan berbasis penguasaan bola.
Namun, momentum tersebut tidak mampu dipertahankan. Pada musim berikutnya, Boro hanya finis di papan tengah, gagal menembus zona play-off. Penurunan berlanjut di musim selanjutnya, di mana mereka kembali terdampar di posisi ke-10 meski Carrick mendapat dukungan dana transfer yang cukup besar.
Hasil yang tak sejalan dengan target klub membuat manajemen akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhiri kerja sama.
Sudut Pandang Pengamat: Masuk Akal Meski Penuh Risiko
Dominic Shaw, jurnalis The Northern Echo yang mengikuti Middlesbrough secara dekat, menilai keputusan Manchester United ini mengandung unsur kejutan, namun tetap bisa dipahami dalam konteks tertentu.
Menurut Shaw, Carrick memang gagal membawa Boro kembali ke Premier League. Namun, kualitas sepak bola yang ia perlihatkan di musim pertamanya menunjukkan potensi kepelatihan yang nyata.
Ia menyebut periode awal Carrick sebagai salah satu fase terbaik Middlesbrough dalam beberapa tahun terakhir. Secara permainan, tim tersebut dinilai layak bersaing di papan atas Championship.
Masalah mulai muncul ketika sejumlah pemain kunci hengkang, terutama mereka yang berstatus pinjaman. Proses regenerasi skuad berjalan tersendat dan performa tim pun perlahan menurun. Situasi itu menciptakan jarak antara ekspektasi suporter dan realita di lapangan hingga berujung pada akhir masa kepelatihan Carrick.
