Malang – Pengujung tahun 2025 menjadi periode yang berat bagi gelandang Arema FC, M. Rafli. Ia harus menghadapi sorotan tajam dari Aremania setelah melakukan kesalahan krusial dalam laga melawan Persita Tangerang di ajang BRI Super League.
Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Selasa (30/12/2025), Arema FC harus mengakui keunggulan Persita dengan skor tipis 0-1. Gol semata wayang tim tamu berawal dari kesalahan Rafli, yang baru masuk pada menit-menit akhir pertandingan.
Blunder tersebut memicu reaksi keras dari suporter. Media sosial Rafli, khususnya akun Instagram pribadinya, dipenuhi ribuan komentar bernada kritik. Tercatat lebih dari 2.800 komentar membanjiri unggahan terakhirnya, mulai dari kekecewaan hingga desakan agar ia meninggalkan Arema FC karena performanya dinilai menurun.
Bahkan, ada pula sebagian komentar yang menyarankan Rafli berkontribusi di luar lapangan. Hal ini dikaitkan dengan statusnya sebagai menantu dari pemegang saham mayoritas Arema FC, Iwan Budianto, sehingga dianggap bisa membantu klub dalam peran berbeda.
Kesalahan Singkat, Dampak Besar
Menariknya, Rafli hanya bermain kurang dari 10 menit dalam laga tersebut. Namun, dalam waktu singkat itu, ia melakukan kesalahan fatal di lini tengah. Upayanya melewati lawan justru berujung kehilangan bola, yang kemudian dimanfaatkan Persita untuk melancarkan serangan balik hingga berbuah gol.
Momen itu disebut-sebut sebagai salah satu pengalaman terberat Rafli selama berseragam Singo Edan. Seusai pertandingan, pemain berusia 27 tahun tersebut terlihat tak kuasa menahan emosi. Ia menutupi wajahnya dengan jersey sejak meninggalkan lapangan hingga memasuki ruang ganti, seolah enggan menatap para pendukung.
Dukungan Datang dari Internal Tim
Hingga kini, Rafli belum menyampaikan pernyataan resmi terkait kejadian tersebut. Meski demikian, kolom komentar media sosialnya tetap dibiarkan terbuka. Sejatinya, Rafli dikenal sebagai pemain dengan mental cukup kuat dan sudah terbiasa menghadapi kritik.
Pada musim sebelumnya, ia juga sempat menjadi sasaran evaluasi akibat performa yang tak stabil. Musim ini, Rafli baru mendapat kesempatan bermain dalam empat pertandingan, seluruhnya sebagai pemain pengganti.
Sayangnya, kesempatan yang datang kali ini justru berujung kesalahan. Meski begitu, dukungan tetap mengalir dari dalam tim. Asisten pelatih Arema FC, Kuncoro, mengaku prihatin dengan situasi yang dihadapi sang pemain.
“Rafli memang sedang berada dalam kondisi yang sulit,” ujar Kuncoro.
Rekan setimnya, Yann Motta, juga terlihat setia mendampingi Rafli saat meninggalkan Stadion Kanjuruhan, menunjukkan solidaritas di tengah tekanan yang dialaminya.
Perjalanan Panjang Bersama Singo Edan
Rafli merupakan salah satu pemain dengan masa pengabdian terlama di Arema FC. Ia telah memperkuat klub tersebut selama delapan tahun dan menjadikan Arema sebagai satu-satunya tim yang dibelanya sejak memulai karier profesional pada 2017.
Di awal kariernya, Rafli sempat digadang-gadang sebagai calon striker masa depan Indonesia. Ia menjadi andalan Timnas Indonesia U-19 dan U-22. Namun, perjalanan kariernya di level klub berjalan naik turun. Ironisnya, kesempatan bermain justru semakin terbatas ketika ia memasuki usia emas sebagai pesepak bola.
