Mengenal Alvaro Arbeloa, Penerus Xabi Alonso di Real Madrid: Taruhan Besar Bernabéu

Jakarta – Real Madrid akhirnya mengambil keputusan tegas di tengah musim 2025/2026. Xabi Alonso harus angkat kaki meski baru setengah musim menangani tim utama. Performa yang tak kunjung stabil, ditambah dinamika kurang harmonis di ruang ganti, membuat manajemen Los Blancos memilih jalan perubahan.

Sebagai gantinya, Real Madrid menunjuk sosok yang sangat lekat dengan identitas klub: Alvaro Arbeloa. Penunjukan ini langsung memantik perhatian karena Arbeloa dinilai bukan sekadar pelatih, melainkan figur yang memahami DNA Madrid dari dalam.

Bukan Sekadar Solusi Darurat

Berbeda dari dugaan awal, Arbeloa tidak datang sebagai pelatih sementara. Pria berusia 42 tahun itu resmi ditetapkan sebagai pelatih kepala permanen tim utama Real Madrid.

Manajemen klub tidak membuka opsi pencarian pelatih lain dalam waktu dekat, menandakan kepercayaan penuh terhadap Arbeloa. Bahkan, sinyal ini sebenarnya sudah terlihat sejak Carlo Ancelotti meninggalkan kursi pelatih sebelumnya.

Petinggi klub meyakini Arbeloa memiliki karakter kuat, kepemimpinan alami, dan kedekatan emosional dengan klub yang dibutuhkan untuk meredam gejolak internal tim.

Dari Akademi Menuju Kursi Panas

Perjalanan kepelatihan Arbeloa terbilang unik. Ia belum pernah menangani klub senior di level profesional sebelum dipercaya memimpin tim utama.

Kariernya dimulai di akademi Real Madrid pada 2020, saat menangani kelompok usia muda. Dedikasinya di level pembinaan membuatnya terus naik jenjang hingga akhirnya dipercaya melatih Real Madrid Castilla pada Mei 2025, menggantikan Raul Gonzalez.

Catatan bersama Castilla memang tidak sepenuhnya mulus. Dari 23 laga, Arbeloa mencatat 12 kemenangan, 3 hasil imbang, dan 8 kekalahan. Sempat terpuruk di awal musim dengan empat kekalahan beruntun, ia berhasil membalikkan keadaan dan membawa Castilla finis di papan atas.

Kebangkitan tersebut menjadi salah satu alasan utama manajemen berani memberinya tanggung jawab lebih besar.

DNA Madridista dan Mental Juara

Minimnya pengalaman melatih di level elite coba ditutup Arbeloa dengan statusnya sebagai Madridista sejati. Ia merupakan lulusan akademi Real Madrid dan sempat dua periode membela tim utama, setelah singgah di Liverpool.

Pada periode 2009–2016, Arbeloa dikenal sebagai bek kanan pekerja keras dengan mental baja. Ia mencatatkan lebih dari 200 penampilan dan menjadi bagian penting dari era kejayaan Madrid.

Lemari trofinya berbicara banyak: dua gelar Liga Champions, satu La Liga, dan dua Copa del Rey bersama Real Madrid. Di level internasional, ia juga anggota skuad legendaris Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010 serta Euro 2008 dan 2012.

Kini, Arbeloa kembali ke Santiago Bernabéu dengan peran berbeda. Tantangannya jauh lebih besar: menenangkan ruang ganti, memperbaiki performa, dan membuktikan bahwa darah Madridista bisa menjadi solusi di tengah krisis.

Mungkin Anda Menyukai