Persib Bandung memiliki banyak legenda. Namun, tak semua mampu meninggalkan jejak sedalam Vladimir Vujovic—bek tangguh yang menjadi bagian penting saat Maung Bandung menjuarai Liga Super Indonesia 2014.
Menyebut namanya, ingatan Bobotoh langsung melayang ke musim emas 2014. Saat itu, Persib tampil perkasa dan menutup kompetisi sebagai kampiun. Kesuksesan tersebut tak lepas dari kokohnya lini belakang yang dikomandoi Vujovic.
Di jantung pertahanan, ia menjelma menjadi tembok baja. Unggul dalam duel udara, tekel keras namun bersih, serta kepemimpinan yang kuat membuatnya dikenal sebagai salah satu bek terbaik di kompetisi saat itu. Lebih dari sekadar pemain asing, Vujovic benar-benar menyatu dengan identitas Persib sepanjang periode 2014 hingga 2017.
Bagi Bobotoh, ia bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi simbol determinasi dan mentalitas juara.
Jejak Karier: Dari Bandung ke Thailand
Persib menjadi klub Indonesia pertama yang dibela Vujovic. Selama tiga musim berseragam biru, ia membangun reputasi sebagai bek tanpa kompromi. Setelah meninggalkan Bandung, ia sempat memperkuat Bhayangkara FC sebelum perlahan menjauh dari sorotan sebagai pemain.
Kini, di usia 43 tahun, Vujovic menjalani babak baru sebagai pelatih. Ia baru saja menyelesaikan pengalaman enam bulan bersama BG Pathum United, klub Thailand yang sebelumnya dikenal sebagai Bangkok Glass.
“Itu pertama kalinya saya pergi ke Thailand, baik sebagai pemain maupun pelatih. Pengalaman yang sangat baik dan luar biasa,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube Bola Break.
Menurutnya, Thailand memberinya perspektif baru tentang profesionalisme. Ia menyebut BG Pathum sebagai klub modern dengan sistem manajemen dan pengembangan pemain yang mengadopsi standar Eropa.
Membandingkan BG Pathum dan Buriram
Ketika membahas Liga Thailand, perhatian kerap tertuju pada Buriram United. Vujovic menilai hal itu wajar, mengingat kekuatan finansial dan kedalaman skuad Buriram yang dihuni banyak pemain asing berkualitas.
Ia bahkan menyamakan dominasi Buriram dengan Johor Darul Ta’zim F.C. di Malaysia—klub mapan yang sulit disaingi.
Meski begitu, Vujovic justru terkesan dengan pendekatan BG Pathum yang mengandalkan pemain lokal Thailand dalam jumlah besar dengan kualitas tinggi. Ia mengaku terkesan dengan kecerdasan taktik para pemainnya.
“Sebagai pelatih, ini pertama kalinya saya melihat kumpulan pemain lokal berkualitas tinggi dalam satu tempat. Mereka sangat memahami konstruksi permainan,” ujarnya.
Bertemu Asnawi, Sandy, dan Shayne di Thailand
Pengalaman di Thailand juga mempertemukannya dengan sejumlah pemain Indonesia yang kini berkarier di sana. Ia sempat berbincang dengan Asnawi Mangkualam sebelum pertandingan, dan memuji performanya bersama Port FC—meski sering dimainkan di sisi kiri karena posisi bek kanan diisi pemain timnas Thailand.
Vujovic juga menghadapi Sandy Walsh dan Shayne Pattynama saat BG Pathum bermain imbang 2-2 melawan Buriram. Ia menilai kompetisi di Thailand sangat kompetitif, dengan klub-klub papan atas mengikuti hingga lima ajang berbeda sehingga rotasi pemain menjadi kebutuhan mutlak.
Dari Bandung hingga Thailand, perjalanan Vladimir Vujovic membuktikan bahwa mentalitas juara tak berhenti ketika sepatu digantung. Ia tetap membawa semangat profesionalisme di setiap langkahnya.
Dan bagi Bobotoh, satu hal tak berubah: nama Vujovic akan selalu menjadi bagian abadi dari kisah emas Persib 2014.
