Manchester United Pecat Ruben Amorim: Manajer dengan Rekor Terburuk di Old Trafford Abad Ini

Manchester United resmi mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim setelah 14 bulan menukangi klub. Keputusan tersebut diumumkan usai hasil imbang 1-1 melawan Leeds United, yang membuat Setan Merah tertahan di posisi keenam klasemen Premier League.

Amorim mulai menangani Manchester United sejak November 2024 sebagai pengganti Erik ten Hag. Selama masa kepemimpinannya, pelatih asal Portugal itu mencatat rata-rata 1,43 poin per pertandingan di semua kompetisi, dengan total 25 kemenangan, 15 hasil imbang, dan 23 kekalahan dari 63 laga.

Tekanan terhadap Amorim meningkat tajam setelah musim pertamanya berakhir dengan kekecewaan. United hanya finis di peringkat ke-15 liga dan tampil buruk di kompetisi domestik, meskipun sempat melaju ke final UEFA Conference League sebelum kalah tipis 0-1 dari Tottenham Hotspur.

Capaian tersebut dinilai jauh dari ekspektasi dan tidak mampu menandingi rekam jejak para pendahulunya. Amorim pun tercatat sebagai manajer dengan rata-rata poin terburuk Manchester United sejak era Sir Alex Ferguson, meninggalkan klub dalam kondisi penuh tuntutan akan perubahan cepat.


Rekor Buruk Ruben Amorim di Manchester United

Statistik Amorim selama menangani United menjadi sorotan utama. Rata-rata 1,43 poin per laga merupakan yang terendah bagi manajer Manchester United sejak 2013.

Dari 63 pertandingan, Amorim hanya mampu meraih 25 kemenangan. Tingginya jumlah hasil imbang dan kekalahan membuat performa tim stagnan dan gagal bersaing di papan atas.

Catatan tersebut bahkan disebut lebih buruk dibandingkan Frank O’Farrell, manajer United yang dipecat pada 1972. Masa jabatan Amorim pun menjadi pengingat pentingnya stabilitas dan efektivitas manajemen di klub sebesar Manchester United.


Tekanan dari Fans dan Media

Manchester United berada di bawah tekanan besar dari suporter dan media sepanjang era Amorim. Performa yang inkonsisten serta rentetan hasil buruk membuat posisi sang manajer terus dipertanyakan.

Hanya delapan kemenangan dari 20 laga awal Premier League mencerminkan kesulitan tim menemukan konsistensi. Kekalahan mengejutkan dari Grimsby Town di ajang Piala Liga semakin memperbesar kritik terhadap kapasitas Amorim sebagai pemimpin tim.

Meski berhasil membawa United ke final Conference League, pencapaian tersebut dinilai belum cukup untuk meredam kekecewaan publik, terutama karena buruknya hasil di kompetisi domestik.


Kontroversi Pernyataan di Luar Lapangan

Situasi semakin memanas setelah pernyataan Amorim usai laga imbang kontra Leeds United. Ia menegaskan bahwa dirinya berperan sebagai manajer, bukan sekadar pelatih, sekaligus menyoroti minimnya dukungan klub pada bursa transfer Januari.

“Saya akan terus berada di situasi ini selama 18 bulan atau sampai dewan memutuskan adanya perubahan. Saya akan tetap menjalankan tugas hingga pengganti datang,” ujar Amorim.

Pernyataan tersebut dinilai memperkeruh suasana internal klub dan mempercepat keputusan manajemen untuk berpisah. Pihak klub menilai ketegangan tersebut berpotensi menghambat perkembangan tim ke depan.

Mungkin Anda Menyukai