Madura United tengah berada dalam situasi sulit di BRI Super League 2025/2026. Laskar Sape Kerrab belum meraih kemenangan dalam 11 pertandingan terakhir, membuat mereka terjerembap ke zona degradasi.
Kondisi ini jelas menjadi alarm serius bagi manajemen. Namun, membalikkan keadaan bukan perkara mudah, terutama di tengah persaingan ketat antar tim.
Manajer Madura United, Umar Wachdin, mengakui situasi tim jauh dari ideal. Meski begitu, ia tetap melihat adanya tanda positif, terutama dari performa tim saat menghadapi Borneo FC.
Dalam laga tersebut, Madura United dinilai tampil cukup dominan meski akhirnya kalah. Hal ini dianggap bisa menjadi modal untuk membangun kembali kepercayaan diri tim.
“Membalikkan situasi ini tidak mudah, karena semua tim juga ingin berkembang. Tapi yang terpenting, kami percaya proses ini akan segera berlalu,” ujar Umar.
Kesulitan Datangkan Pelatih Baru
Di tengah krisis performa, Madura United juga menghadapi kendala dalam mencari pelatih baru. Sesuai regulasi I.League, klub hanya diperbolehkan menggunakan caretaker selama satu bulan. Jika melewati batas tersebut, klub akan dikenakan denda.
Manajemen sebenarnya sempat mencoba merekrut mantan pelatih Arema FC, Joel Cornelli. Namun, upaya tersebut gagal karena sang pelatih masih terikat kontrak dengan Timnas Malaysia putri.
Saat ini, Madura United masih berburu pelatih dari luar negeri. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait sosok yang akan ditunjuk.
Situasi Global Jadi Hambatan
Tak hanya faktor teknis, situasi global juga turut memengaruhi proses pencarian pelatih. Konflik di Timur Tengah disebut menjadi salah satu kendala, terutama dalam hal perjalanan dari Eropa maupun Amerika Selatan ke Asia.
Di sisi lain, opsi pelatih lokal maupun dari Asia Tenggara dinilai belum memenuhi kriteria yang diinginkan manajemen.
“Kami terus mencari, tapi tim tidak boleh berhenti. Kami harus tetap berjalan dengan sumber daya yang ada sambil menunggu keputusan terbaik,” tegas Umar.
Opsi Pertahankan Rakhmat Basuki
Di tengah ketidakpastian, muncul opsi untuk mempertahankan Rakhmat Basuki sebagai pelatih. Sosok yang akrab disapa RB itu dinilai mampu membawa perubahan positif bagi tim dalam masa transisi ini.
Namun, ada kendala regulasi. Rakhmat Basuki belum memiliki lisensi AFC Pro yang menjadi syarat wajib bagi pelatih di kompetisi ini.
Meski demikian, manajemen tidak menutup kemungkinan untuk mencari solusi terbaik terkait situasi tersebut.
“Saya setuju performa tim membaik di bawah RB. Itu jadi salah satu opsi, tapi kami tetap harus patuh pada regulasi,” jelas Umar.
