Krisis finansial yang menimpa Sriwijaya FC semakin memprihatinkan. Setelah beberapa pemain memutuskan hengkang akibat keterlambatan pembayaran gaji dan ketidakpastian keuangan klub, kini giliran pelatih Budi Sudarsono yang mengisyaratkan kemungkinan untuk meninggalkan tim. Pelatih berpengalaman ini menegaskan bahwa kelanjutan kariernya di Laskar Wong Kito sangat bergantung pada penyelesaian masalah finansial yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik.
Situasi di Sriwijaya FC dikabarkan telah mencapai titik nadir. Selain gaji pemain yang tertunda, sumber internal klub menyebut adanya kesulitan dalam memenuhi kebutuhan operasional harian, termasuk fasilitas latihan dan transportasi tim. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan manajemen dan pendukung, karena dampak finansial yang berlarut-larut berpotensi merusak stabilitas tim di tengah kompetisi.
Budi Sudarsono sendiri dikenal sebagai sosok yang memiliki hubungan dekat dengan para pemain dan memiliki peran besar dalam menjaga moral tim. Namun, ia tidak menutup kemungkinan untuk mencari opsi lain jika situasi tidak kunjung membaik. Pernyataan ini menimbulkan spekulasi bahwa kepergiannya bisa menjadi pukulan berat bagi Sriwijaya FC, mengingat pengalaman dan pengaruhnya di lapangan dan ruang ganti.
Para pengamat sepak bola lokal menilai, krisis ini bukan hanya masalah finansial semata, tetapi juga ujian terhadap kemampuan manajemen klub dalam mengelola sumber daya dan menjaga kepercayaan pemain serta staf. Penundaan gaji yang berkepanjangan berisiko merusak atmosfer tim dan performa di kompetisi yang sedang berjalan.
Manajemen Sriwijaya FC diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan keuangan klub, mengingat hengkangnya pelatih maupun pemain kunci dapat membawa dampak jangka panjang. Dukungan dari sponsor, penggemar, dan pemilik klub kini menjadi kunci agar Laskar Wong Kito bisa bertahan dan kembali fokus menghadapi musim kompetisi tanpa tekanan finansial yang membebani.
Jika krisis ini tidak terselesaikan, Sriwijaya FC bisa menghadapi skenario yang lebih serius, termasuk kesulitan mempertahankan pemain muda berbakat, menurunnya performa di lapangan, hingga hilangnya kepercayaan publik terhadap klub yang sempat menjadi kebanggaan Sumatera Selatan.
