Pertandingan antara Brighton & Hove Albion dan Arsenal yang berakhir 0-1 di Amex Stadium, Rabu malam, menyisakan ketegangan. Arsenal memang pulang dengan tiga poin, tetapi atmosfer memanas setelah peluit panjang dibunyikan.
Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, melontarkan kritik keras terhadap pendekatan permainan tim tamu. Ia menilai Arsenal sengaja memanfaatkan celah aturan dan menerapkan taktik buang waktu demi mengamankan kemenangan tipis tersebut.
Bagi Arsenal, hasil ini krusial dalam persaingan gelar Premier League. Namun, kemenangan tersebut juga memicu perdebatan soal cara The Gunners mengelola tempo pertandingan.
Gol Cepat Saka Jadi Pembeda
Arsenal memastikan kemenangan lewat gol cepat Bukayo Saka pada menit ke-9. Gol tersebut cukup untuk menjaga posisi mereka di puncak klasemen.
Tambahan tiga poin membuat Arsenal unggul tujuh angka setelah Manchester City hanya bermain imbang 2-2 melawan Nottingham Forest. Sementara itu, Brighton masih tertahan di peringkat ke-13.
Meski kehilangan William Saliba akibat cedera pergelangan kaki, Arsenal tetap solid dalam bertahan.
Brighton sebenarnya tampil dominan dengan penguasaan bola lebih besar serta mencatatkan 11 tembakan, berbanding tujuh milik Arsenal. Namun efektivitas menjadi pembeda.
Hurzeler: Arsenal Manipulasi Ritme Laga
Usai laga, Hurzeler tak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai Arsenal datang bukan untuk bermain terbuka, melainkan untuk mengganggu ritme pertandingan.
“Saya rasa hanya ada satu tim yang benar-benar mencoba bermain sepak bola hari ini,” ujar Hurzeler.
Ia juga menyinggung statistik pertandingan yang menunjukkan Brighton hanya kebobolan satu tembakan tepat sasaran.
“Statistik tidak pernah berbohong. Kami hanya kebobolan satu tembakan tepat sasaran. Kami memang kurang efektif. Di sepertiga akhir, kami seharusnya bisa menciptakan lebih banyak peluang.”
Menurutnya, berbagai penghentian permainan—termasuk momen ketika kiper lawan beberapa kali terjatuh di akhir laga—membuat tempo pertandingan terputus-putus.
“Jika mereka memenangkan Premier League, tak ada yang akan bertanya bagaimana caranya,” katanya.
“Ini soal bagaimana aturan diterapkan. Jika wasit membiarkan semuanya, maka mereka bisa membuat ritme sesuai keinginan mereka sendiri.”
Ia menutup dengan sindiran:
“Apakah Anda pernah melihat pertandingan Premier League di mana seorang kiper jatuh sampai tiga kali?”




