Persib Bandung sukses menaklukkan rival abadinya, Persija Jakarta, pada laga pekan ke-17 BRI Super League 2025/2026. Bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Minggu (11/1/2026) sore WIB, Maung Bandung menang tipis 1-0.
Kemenangan tersebut terasa istimewa karena mengantarkan Persib menutup putaran pertama sebagai pemuncak klasemen BRI Super League musim ini. Tim asuhan Bojan Hodak mengoleksi 38 poin dari 17 pertandingan, unggul tiga angka dari Persija Jakarta yang berada di posisi ketiga.
Gol tunggal kemenangan Persib tercipta cepat pada menit ke-5 lewat Beckham Putra Nugraha. Winger berusia 24 tahun itu memanfaatkan kelengahan lini belakang Persija dan langsung menggetarkan gawang lawan, disambut sorak sorai puluhan ribu Bobotoh di GBLA.
Usai mencetak gol, Beckham kembali mencuri perhatian dengan selebrasi “ice cold”. Gestur dingin yang ia peragakan mengingatkan pada selebrasi khas bintang Chelsea, Cole Palmer.
Selebrasi tersebut bukan kali pertama dilakukan Beckham. Musim lalu, ia juga melakukannya saat Persib bermain imbang 2-2 melawan Persija. Namun kala itu, aksinya berujung sanksi larangan bermain tiga pertandingan serta denda sebesar Rp75 juta.
Selebrasi yang Sudah Ikonik
Beckham menegaskan, selebrasi tersebut murni sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak lawan.
“Ya, ini sudah ikonik buat saya dan ini hal yang normal,” ujar Beckham.
“Kita juga bisa lihat ada pemain Chelsea yang melakukan selebrasi seperti itu dan menurut saya itu wajar. Ini sudah jadi selebrasi khas saya. Apalagi kami sedang berada di puncak klasemen, jadi kenapa tidak,” lanjutnya.
Emosi yang Wajar di Laga Besar
Pelatih Persib, Bojan Hodak, turut memberikan tanggapan terkait selebrasi anak asuhnya tersebut. Menurutnya, luapan emosi merupakan hal yang lazim dalam pertandingan besar seperti laga klasik Persib kontra Persija.
“Beruntung hari ini tidak ada suporter Persija di stadion, sehingga tidak ada unsur provokasi,” kata Hodak.
“Tapi kita bisa lihat, sepak bola adalah olahraga yang penuh emosi. Kartu merah atau momen-momen lain bisa terjadi karena emosi. Sebelum pertandingan saya sudah mengingatkan pemain untuk mengontrol emosi, tetapi ketika mereka bermain 100 persen dan mencetak gol di laga sebesar ini, tentu itu sulit dihindari,” jelasnya.
