Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, membagikan kisah perjalanan kariernya, dari awal terjun ke dunia kepelatihan hingga memutuskan untuk menekuni profesi ini secara total.
Pria asal Inggris ini mengakui bahwa motivasi banyak pelatih sering bermula dari impian masa kecil: keinginan menjadi pesepak bola profesional yang belum tercapai. Herdman menjelaskan, ketika seorang pencinta sepak bola menyadari bahwa kualitas permainannya tidak cukup untuk menembus level tertinggi, hasrat terhadap olahraga itu tidak boleh padam. Ia merasa beruntung memiliki bakat alami dalam membangun hubungan dan bekerja sama dengan banyak orang.
“Menurut saya, kebanyakan pelatih tidak bermain di level tertinggi. Mereka akhirnya melatih, karena itu mimpinya sebagai pemain sepak bola,” ujar Herdman, dikutip dari kanal YouTube Timnas Indonesia.
“Dan ketika Anda tidak cukup baik untuk bermain di level itu, Anda ingin melanjutkan semangat Anda dalam olahraga. Saya beruntung karena menikmati waktu bekerja bersama orang-orang,” tambahnya.
Filosofi Herdman
Herdman mendefinisikan dirinya lebih dari sekadar pengolah taktik; ia melihat diri sebagai pendidik yang tertarik pada perkembangan manusia. Ia menikmati proses belajar-mengajar, yang secara alami membawanya ke dunia kepelatihan sepak bola.
“Saya senang melihat orang tumbuh dan berkembang sebagai guru, pendidik, atau dosen. Saya selalu menikmati proses mengajar dan belajar, sehingga transisi saya ke kepelatihan sepak bola berjalan alami,” ucap Herdman.
Karier Herdman sangat luas, mencakup berbagai jenjang kompetisi internasional. Sebelum menangani Timnas Indonesia, ia pernah meniti karier dari level akar rumput hingga panggung turnamen paling bergengsi di dunia.
“Bekerja di level akar rumput, akademi profesional, kemudian sepak bola wanita, Olimpiade, Piala Dunia, klub, dan sekarang di sini, di Indonesia,” jelasnya.
Dedikasi untuk Mengajar
Bagi Herdman, inti dari profesi pelatih adalah dedikasi untuk mengajar dan membimbing setiap individu. Ia memandang keberhasilan seorang pelatih diukur dari kemampuannya membantu orang lain mencapai potensi terbaik mereka.
“Jadi, saya pikir kebanyakan pelatih adalah guru. Mereka ingin mengajar, membantu orang berkembang, dan menjadi lebih baik. Itu adalah filosofi utama saya sebagai pelatih,” imbuh Herdman.
