John Herdman, Arsitek Kebangkitan Kanada di Piala Dunia 2022: Bisakah Terulang Bersama Timnas Indonesia?

Nama John Herdman kian santer disebut sebagai kandidat kuat pelatih baru Timnas Indonesia. Pelatih asal Inggris itu dinilai memiliki kapasitas dan pengalaman yang memadai untuk menakhodai skuad Garuda.

Sejumlah laporan media luar negeri menyebutkan bahwa Herdman telah menolak pendekatan dari beberapa negara lain, termasuk Jamaika dan Honduras. Situasi tersebut semakin menguatkan spekulasi ketertarikannya terhadap proyek jangka panjang dan perkembangan sepak bola Indonesia.

John Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, dan kini berusia 50 tahun. Meski tidak memiliki latar belakang sebagai pesepak bola profesional, ia dikenal luas berkat reputasinya sebagai pelatih dengan rekam jejak solid. Herdman juga mengantongi lisensi UEFA Pro.

Namanya melejit ketika menangani Timnas Kanada pada periode 2018 hingga 2023. Pencapaian puncaknya adalah membawa Les Rouges lolos ke Piala Dunia 2022 Qatar, sebuah prestasi bersejarah bagi sepak bola Kanada.

Mengakhiri Penantian 36 Tahun

Keberhasilan tersebut mengakhiri penantian panjang Kanada selama 36 tahun untuk kembali tampil di Piala Dunia. Sebelumnya, Les Rouges terakhir kali ambil bagian pada edisi 1986.

Pada turnamen tersebut, Kanada harus tersingkir di fase grup setelah menelan tiga kekalahan beruntun dari Uni Soviet, Prancis, dan Hungaria, serta finis di dasar klasemen Grup C tanpa poin.

Di bawah kendali Herdman, wajah Timnas Kanada berubah drastis. Mereka berkembang menjadi tim solid dan sulit dikalahkan, terutama sepanjang babak kualifikasi zona CONCACAF, yang akhirnya mereka tutup sebagai pemuncak klasemen.

Perjalanan Menuju Piala Dunia 2022

Kanada mengamankan tiket otomatis ke Piala Dunia 2022 Qatar sebagai satu dari tiga wakil CONCACAF, bersama Meksiko dan Amerika Serikat.

Namun, perjalanan mereka tidak sepenuhnya mulus. Pada lima laga awal putaran ketiga kualifikasi, Kanada hanya mencatat satu kemenangan dan empat hasil imbang.

Kala itu, Les Rouges bermain imbang melawan Honduras dan Amerika Serikat, sebelum meraih kemenangan atas El Salvador. Setelah itu, mereka kembali berbagi poin saat menghadapi Meksiko dan Jamaika.

Meski sempat tersendat, Kanada justru tampil konsisten pada fase selanjutnya. Dari total 14 pertandingan, tim asuhan Herdman berhasil mengumpulkan 28 poin hasil dari delapan kemenangan, empat kali imbang, dan dua kekalahan.

Alphonso Davies dan kawan-kawan unggul selisih gol atas Meksiko yang finis di peringkat kedua, sementara Amerika Serikat menempati posisi ketiga dengan 25 poin.

Ujian Berat di Qatar

Sayangnya, performa impresif di kualifikasi tidak berlanjut di putaran final Piala Dunia 2022. Kanada yang tergabung di Grup F bersama Belgia, Kroasia, dan Maroko harus mengakhiri kiprah mereka lebih awal.

Dalam tiga pertandingan fase grup, Kanada selalu menelan kekalahan, masing-masing dari Belgia (0-1), Kroasia (1-4), dan Maroko (1-2).

Les Rouges kebobolan tujuh gol dan hanya mampu mencetak dua gol, sehingga finis tanpa poin dan tersingkir di babak penyisihan.

Meski demikian, secara keseluruhan catatan Herdman tetap terbilang impresif. Dalam kurun lima tahun, ia memimpin Kanada dalam 58 pertandingan di berbagai ajang dengan rata-rata perolehan 1,98 poin per laga—sebuah capaian yang mencerminkan keberhasilan membangun tim nasional yang kompetitif di level internasional.

Kini, pertanyaan pun mengemuka: mampukah John Herdman mengulang transformasi serupa bersama Timnas Indonesia jika benar dipercaya menakhodai skuad Garuda?

Mungkin Anda Menyukai