Rasmus Hojlund akhirnya buka suara soal kepergiannya dari Manchester United. Ia secara terang-terangan menyebut Ruben Amorim sebagai faktor utama yang mengakhiri kariernya di Old Trafford.
Puncaknya terjadi saat dirinya dicoret dari skuad pembuka Premier League melawan Arsenal. Sejak momen itu, Hojlund merasa masa depannya di MU sudah selesai.
Bangkit di Napoli Bersama Conte
Hijrah ke Napoli justru menjadi titik balik. Di bawah asuhan Antonio Conte, performanya kembali tajam.
Musim ini, ia mencatat 14 gol dari 37 laga—jauh lebih baik dibanding musim terakhirnya di MU yang hanya menghasilkan 10 gol dari 52 pertandingan.
Napoli pun dikabarkan siap mempermanenkan statusnya, terutama jika lolos ke Liga Champions UEFA.
Merasa Terkekang di Manchester
Hojlund mengaku masa-masa terakhirnya di MU terasa berat. Ia merasa tidak diberi ruang untuk berkembang dan terus berada di bawah tekanan.
“Saya merasa seperti dimasukkan ke dalam kotak,” ungkapnya.
Situasi itu membuatnya yakin harus pergi demi menyelamatkan kariernya.
Napoli Jadi Tempat Kebangkitan
Berbeda dengan di Manchester, Hojlund merasakan kepercayaan penuh di Napoli. Dukungan dari klub dan pelatih membuatnya kembali percaya diri.
Ia merasa dihargai sebagai pemain, bukan sekadar beban transfer mahal.
Tanggapi Kritik Media
Striker Denmark itu juga menyinggung kritik media di negaranya. Ia menyebut narasi negatif sering tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Meski begitu, ia memilih tetap fokus meningkatkan performa daripada memikirkan opini publik.
