Profil pelatih baru Timnas Indonesia, John Herdman, langsung mencuri perhatian publik. Pada sesi perkenalan resminya di Jakarta, 13 Januari lalu, pelatih asal Inggris tersebut tampil sebagai sosok yang optimistis, percaya diri, dan komunikatif.
Karakter itu terlihat jelas dari cara Herdman menjawab pertanyaan serta bahasa tubuhnya saat memaparkan visi kepada publik dan media.
“Sikap dan cara berpikir seseorang bisa diamati dari gestur dan komunikasinya. Sekilas saya melihat John Herdman sebagai figur yang optimistis dan cerdas. Semua itu muncul karena dia berpengalaman dan memiliki prestasi yang baik,” ujar Raja Isa Raja Akram Syah.
Pada Piala AFF 2026, Timnas Indonesia akan tergabung di Grup A bersama juara bertahan Vietnam, Singapura, Kamboja, serta pemenang laga play-off antara Timor Leste dan Brunei Darussalam.
Turnamen yang kini bernama ASEAN Championship tersebut akan berlangsung pada 24 Juli hingga 26 Agustus 2026, sekaligus menandai 30 tahun penyelenggaraan sejak pertama kali digelar pada 1996.
Tantangan Besar di Awal Masa Jabatan
Pengamat sepak bola asal Malaysia itu menilai John Herdman sebagai pelatih yang menyukai tantangan, termasuk berani mengambil risiko besar dalam setiap keputusan yang dibuatnya.
“Keputusan John Herdman memberi ruang bagi pemain lokal dari Liga Super Indonesia untuk tampil di Piala AFF 2026 merupakan risiko besar. Apalagi dia belum sepenuhnya memahami peta persaingan sepak bola di kawasan ini. Namun, dia sangat percaya diri,” jelas Raja Isa.
Ia menambahkan, PSSI telah membebani Timnas Indonesia dengan target juara di ajang ASEAN Championship tersebut.
“Indonesia adalah salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara. Target juara itu sangat wajar. Memang faktanya Indonesia selalu gagal juara di Piala AFF, tapi John Herdman berani mengambil risiko yang bisa saja berdampak pada reputasinya,” ucap mantan pelatih PSM Makassar itu.
Pengalaman 17 Tahun Hadapi Tekanan Publik
Raja Isa, yang telah menghabiskan sekitar 17 tahun karier kepelatihannya bersama klub-klub Indonesia, memahami betul kerasnya tekanan dan kritik dari pencinta Timnas Indonesia.
“John Herdman harus memiliki keteguhan hati dalam membangun Timnas Indonesia. Dia harus siap menerima kritik pedas dari suporter, tetapi jangan takut gagal. Shin Tae-yong juga pernah gagal di Piala AFF pada awal masa jabatannya. Begitu pula pelatih asal Inggris lainnya, Peter White,” paparnya.
Menurut Raja Isa, tuntutan publik agar Timnas Indonesia selalu juara di Piala AFF bukanlah hal baru.
“Siapa pun pelatihnya—baik John Herdman, Indra Sjafri, Rahmad Darmawan, Shin Tae-yong, hingga Patrick Kluivert—tekanan publik selalu sama. Apalagi Timnas Indonesia pernah melangkah hingga putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026,” ujarnya.
Piala AFF Jadi Momentum Kebangkitan Dukungan
Meski penuh tekanan, Raja Isa menilai Piala AFF 2026 justru bisa menjadi momentum terbaik bagi John Herdman untuk mengembalikan gairah dukungan Garuda Fans yang disebut tengah berada di titik terendah.
“Budaya sepak bola Indonesia sangat berbeda dengan negara lain, termasuk Kanada. Di sini, seorang pelatih bisa sangat diagungkan, tetapi di saat yang sama juga bisa dikritik habis-habisan,” tuturnya.
“Tugas John Herdman sangat berat. Selain harus memberi prestasi untuk Timnas Indonesia, dia juga dituntut memulihkan kembali kecintaan dan kepercayaan suporter yang saat ini berada di titik nol,” pungkas Raja Isa.
