Keputusan John Herdman untuk memanggil Cahya Supriadi ke dalam skuad Timnas Indonesia untuk turnamen perdananya cukup mengejutkan banyak pihak. Herdman memang membawa empat kiper, namun kehadiran Cahya memberikan warna tersendiri karena pengalaman dan potensinya yang terus berkembang.
Meski bukan kali pertama Cahya tampil bersama timnas senior, kesempatan ini tetap menjadi pengalaman yang berbeda dan berharga bagi kiper berusia 23 tahun tersebut. Sebelumnya, ia pernah memperkuat Timnas Indonesia senior di ajang ASEAN Cup 2024 saat masih di bawah asuhan Shin Tae-yong. Kala itu, skuad yang diturunkan didominasi oleh pemain muda, sehingga pengalaman Cahya saat itu lebih banyak sebagai pembelajaran di level internasional.
Kini, di era Herdman, Cahya berkesempatan bersanding dengan dua kiper berpengalaman yang membela klub-klub Eropa, yakni Maarten Paes dari Ajax Amsterdam dan Emil Audero dari Cremonese. Kondisi ini memberikan Cahya pengalaman yang berbeda karena ia bisa belajar langsung dari kiper-kiper yang berkompetisi di level profesional Eropa, sekaligus menambah wawasan dan mental bertanding di turnamen besar.
Kelahiran Karawang, Jawa Barat, ini dikenal sebagai kiper dengan refleks cepat dan kemampuan distribusi bola yang baik. Herdman menilai kualitas teknis Cahya cukup menjanjikan untuk menjadi bagian penting dari skuad Timnas Indonesia, meskipun harus bersaing ketat dengan nama-nama besar lainnya. Pelatih asal Inggris ini tampak ingin memberikan kesempatan bagi pemain muda berbakat untuk berkembang sekaligus membangun kedalaman skuad kiper yang solid.
Panggilan ini bukan hanya soal memberikan menit bermain, tetapi juga soal pengembangan mental dan profesionalisme. Cahya diprediksi akan mendapatkan banyak pelajaran berharga, mulai dari pendekatan taktik Herdman, disiplin latihan, hingga bagaimana menghadapi tekanan di level internasional. Hal ini diyakini akan mempercepat prosesnya menjadi kiper top Indonesia di masa depan.
Dengan kombinasi pengalaman lama dan tantangan baru di era Herdman, Cahya Supriadi memiliki peluang besar untuk menegaskan posisinya sebagai salah satu kiper muda paling menjanjikan di Timnas Indonesia. Keputusan Herdman memanggilnya juga menjadi sinyal positif bagi regenerasi kiper muda di sepak bola nasional, sekaligus memberi pesan bahwa kerja keras dan konsistensi di level klub tetap diperhatikan untuk peluang tampil di tim nasional
