Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, membagikan kisah menarik tentang perjalanan kariernya di Serie A bersama Sassuolo. Ia mengungkapkan bahwa kepindahannya ke Mapei Stadium pada musim panas lalu tidak diambil secara terburu-buru, melainkan melalui pertimbangan matang.
Sebelum resmi bergabung, Idzes aktif mencari informasi dari orang-orang terdekatnya, termasuk Alfred Duncan dan Fali Cande. Ia ingin memastikan bahwa Sassuolo adalah klub dengan visi jelas dan proyek jangka panjang yang sesuai dengan ambisinya.
“Musim panas ini saya punya peluang bergabung dengan Sassuolo. Kebetulan saya bermain dengan Alfred Duncan di Venezia, jadi saya bertanya kepadanya. Saya juga berbicara dengan Fali Cande yang datang ke sini,” ujar Idzes, dikutip dari YouTube Serie A.
“Kami berbincang tentang seperti apa Sassuolo itu. Kita tentu mengenal klubnya, tetapi saya ingin tahu bagaimana kondisi di dalamnya dan arah yang ingin mereka tuju,” tambahnya.
Ditempa Striker Kelas Dunia
Memasuki musim keduanya di Serie A, Idzes merasa proses adaptasinya berjalan secara alami berkat intensitas kompetisi yang tinggi. Setiap pekan menjadi ajang pembelajaran saat ia harus berhadapan dengan para penyerang papan atas.
Nama-nama seperti Moise Kean, Romelu Lukaku, hingga Lautaro Martinez menjadi ujian konsistensi dan ketangguhan bagi bek berusia 25 tahun tersebut. Mengawal striker-striker elit itu ia anggap sebagai “sekolah terbaik” untuk meningkatkan kualitas bertahan.
“Di tahun pertama saya, pertandingan pertama kami adalah melawan Fiorentina di laga tandang dan saya bermain melawan Moise Kean. Dia sangat kuat dan pemain yang sangat bagus,” jelas Idzes.
“Setiap minggu Anda menghadapi pemain seperti itu. Kadang Lukaku, kadang Lautaro Martinez. Lawannya selalu berbeda. Saya merasa banyak belajar dari pengalaman tersebut,” lanjutnya.
Peran Penting Fabio Grosso
Idzes juga memberikan apresiasi besar kepada pelatih Sassuolo, Fabio Grosso, beserta staf kepelatihan yang membantunya beradaptasi dengan cepat.
Meski sebelumnya terbiasa bermain dalam sistem empat bek di Belanda, pendekatan taktis dan sesi pertemuan teknis bersama Grosso membuatnya lebih memahami karakter permainan Sassuolo.
Kini, koordinasinya di jantung pertahanan bersama Tarik Muharemovic semakin solid. Keduanya dinilai mampu menjaga keseimbangan lini belakang, baik saat membangun serangan maupun ketika menghadapi tekanan.
“Tentu sangat penting bagi saya bermain sebagai bek tengah kanan dan memastikan koordinasi yang baik dengan bek tengah kiri. Saya pikir kerja sama saya dengan Tarik Muharemovic berjalan cukup baik,” ujar Idzes.
“Sebagai lini belakang, kami harus bergerak bersama. Naik ketika memungkinkan agar tim bisa bermain lebih pendek, dan turun saat harus membaca bahaya. Kami harus tetap kompak, menjadi satu kesatuan baik saat bertahan maupun menyerang,” pungkasnya.
Dengan 25 penampilan penuh selama 90 menit di Serie A musim ini, Idzes menunjukkan konsistensi sekaligus perkembangan yang signifikan dalam perjalanannya di Italia.
