Bukan Sekadar Pelatih, John Herdman Datang ke Indonesia dengan Misi Jiwa

Penunjukan John Herdman sebagai pelatih kepala Tim Nasional Indonesia menandai babak baru yang sarat makna bagi sepak bola nasional. PSSI tidak hanya merekrut pelatih berpengalaman dengan rekam jejak kelas dunia, tetapi juga menghadirkan sosok pemimpin yang dibentuk oleh perjalanan hidup panjang dan nilai-nilai kuat.

Nama Herdman lekat dengan transformasi. Ia dikenal sebagai arsitek kebangkitan sepak bola Kanada, sekaligus satu-satunya pelatih dalam sejarah yang mampu mengantar tim nasional putra dan putri dari satu negara tampil di Piala Dunia FIFA. Namun, di balik pencapaian itu, tersimpan kisah perjuangan dan pilihan hidup yang membentuk filosofi kepelatihannya.

Saat banyak pihak menilai Indonesia sebagai tantangan berat, Herdman justru melihatnya sebagai panggilan. Di tengah berbagai tawaran dari negara lain, termasuk kawasan CONCACAF, pelatih asal Inggris itu memilih Garuda sebagai tujuan berikutnya dalam perjalanan karier dan kehidupannya.

Keputusan tersebut melampaui kalkulasi profesional. Bagi Herdman, Indonesia adalah ruang untuk membangun warisan—bukan semata kemenangan, tetapi perubahan budaya, mentalitas, dan identitas sepak bola nasional.

Berangkat dari Akar Kehidupan Sederhana

John Herdman tumbuh di Consett, kawasan timur laut Inggris, dalam lingkungan keluarga pekerja keras. Kakek dan ayahnya menghabiskan sebagian besar hidup di pabrik baja, menanamkan nilai ketangguhan, kerendahan hati, dan solidaritas yang kelak menjadi fondasi filosofi kepelatihannya.

Ia bukan produk akademi elite atau jalur instan menuju kesuksesan. Herdman memulai segalanya dari bawah—mengajar paruh waktu sambil melatih tim usia muda. Dari proses itulah ia belajar bahwa kepercayaan, ketahanan, dan persaudaraan merupakan modal utama dalam membangun tim yang kuat.

Pada 2001, Herdman mengambil keputusan besar meninggalkan Inggris menuju Selandia Baru. Ia melangkah bukan sendirian. Sang istri, Clare, yang telah mendampinginya sejak usia 16 tahun, setia menemaninya dalam perjalanan penuh ketidakpastian tersebut.

Dukungan keluarga, termasuk dua anak mereka, Lilly dan Jay, menjadi jangkar emosional yang memungkinkan Herdman menempuh jalur karier unik hingga mencatat sejarah di panggung sepak bola dunia.

Indonesia, Pilihan yang Sangat Personal

Penunjukan Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia bukan keputusan instan. PSSI memahami bahwa pilihan ini lahir dari pertimbangan mendalam sang pelatih, yang mencari lebih dari sekadar proyek prestasi jangka pendek.

“Indonesia bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan untuk transformasi,” ujar Herdman dalam pertemuan perdananya dengan PSSI pada pertengahan Desember 2025.

Ia melihat potensi besar dalam sepak bola Indonesia—bukan hanya dari sisi talenta, tetapi juga dari gairah publik yang luar biasa.

“Saya melihat potensi yang sangat besar, gairah yang tak tertandingi, dan kerinduan mendalam dari jutaan penggemar,” tuturnya.

Bagi Herdman, tantangan di Asia Tenggara menghadirkan ruang untuk menciptakan dampak sosial dan budaya, sebagaimana yang pernah ia lakukan saat membangun fondasi sepak bola Kanada hingga melahirkan bintang seperti Alphonso Davies.

Membangun Garuda dari Akar ke Puncak

Herdman dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan sistemik dan visi jangka panjang. Ia piawai menyatukan pengembangan bakat regional dan nasional dalam satu konsep besar yang ia sebut sebagai “One Team.”

Pendekatan ini dinilai relevan bagi Indonesia, negara dengan keragaman budaya, karakter pemain, dan latar belakang yang luas. Herdman datang bukan untuk menyeragamkan, melainkan menyatukan.

“Saya tidak datang untuk memaksakan budaya asing. Saya datang untuk menggali dan memuliakan budaya sepak bola Indonesia,” tegasnya.

Filosofinya bertumpu pada pembentukan persaudaraan yang kuat di dalam tim.

“Kami akan membangun brotherhood, di mana setiap pemain—baik naturalisasi maupun lokal—merasa aman, dihargai, dan memiliki tujuan yang sama. Kami ingin menciptakan identitas Garuda yang baru: tangguh secara taktik dan tak tergoyahkan dalam semangat,” jelas pelatih berusia 50 tahun itu.

Harapan Baru, Tanggung Jawab Bersama

Kehadiran John Herdman membawa harapan besar, sekaligus tanggung jawab kolektif. Transformasi yang ia usung tidak dapat berjalan sendiri. Dukungan federasi, pemain, pelatih lokal, serta seluruh elemen sepak bola nasional menjadi kunci keberhasilannya.

PSSI pun mengajak masyarakat Indonesia, khususnya suporter Timnas Garuda, untuk menyambut Herdman dan keluarganya dengan tangan terbuka.

Perjalanan ini bukan semata soal hasil di papan skor. Ini adalah kisah tentang seorang arsitek perubahan yang memilih Indonesia sebagai rumah baru untuk mewujudkan mimpi besar—mimpi yang kini menjadi milik seluruh bangsa.

Mungkin Anda Menyukai