Lagu “Nenekku Pahlawanku” milik Wali Band mengisahkan figur nenek sebagai pelindung sekaligus panutan bagi cucunya. Liriknya sarat makna tentang ketulusan, pengorbanan, dan keteguhan hati.
Kisah serupa tercermin dalam perjalanan hidup winger muda PSIM Yogyakarta, Ikhsan Chan. Di balik kariernya sebagai pesepak bola profesional, ada sosok nenek bernama Kartini yang menjadi pahlawan sejati dalam hidupnya.
Bagi Ikhsan, kasih sayang dan perjuangan sang nenek adalah fondasi utama yang mengantarkannya hingga ke level sepak bola profesional. Tanpa peran Kartini, pemain berusia 21 tahun itu meyakini perjalanan hidupnya akan sangat berbeda.
“Nenek adalah orang paling penting dalam hidup saya, terutama dalam perjalanan karier sepak bola,” ujar Ikhsan Chan mengenang masa kecilnya.
Diasuh Sejak Usia Dini
Ikhsan memang tumbuh dengan kedekatan emosional yang kuat bersama sang nenek. Sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak, ia diasuh oleh Kartini setelah kedua orang tuanya berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Pemilik nama lengkap Muhammad Ikhsan Chan itu masih mengingat jelas bagaimana sang nenek setia mengantar dan menjemputnya ke sekolah menggunakan sepeda onthel setiap hari, lalu menunggu hingga jam belajar usai.
Tak hanya memberikan kasih sayang, Kartini juga berjuang keras di tengah keterbatasan ekonomi demi memenuhi kebutuhan sang cucu. Ia bekerja sebagai penggosok pakaian untuk membelikan sepatu bola pertama bagi Ikhsan—langkah kecil yang menjadi awal dari mimpi besar.
Winger bernomor punggung 21 PSIM itu juga tak pernah lupa pengorbanan sang nenek yang bahkan rela meminjam uang demi membelikan sepatu baru ketika sepatu lamanya sudah tak layak pakai.
“Dari kecil, apa pun yang saya minta selalu diusahakan nenek. Walaupun sering tidak punya uang, nenek pasti mencari cara,” kenang pemain kelahiran 1 Mei 2004 itu.
Tegas, Disiplin, dan Penuh Perhatian
Selain penuh kasih, Kartini dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Ia selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan, termasuk soal kewajiban beribadah di tengah kesibukan Ikhsan sebagai pesepak bola.
“Nenek saya bukan orang yang kejam, tapi tegas. Salah satunya selalu mengingatkan soal salat,” tutur pemain kelahiran Medan, Sumatra Utara tersebut.
Hingga kini, komunikasi keduanya tetap terjaga meski terpisah jarak. Setiap hari, Kartini rutin menelepon Ikhsan selepas Magrib untuk menanyakan kabar, latihan, dan memastikan cucunya sudah makan.
“Setelah Magrib nenek pasti menelepon. Kadang cuma tanya latihan tadi gimana atau sudah makan belum. Sebelum pertandingan saya juga selalu telepon nenek. Kalau belum, rasanya ada yang kurang,” ujarnya.
Sumber Motivasi Terbesar
Jauh dari keluarga membuat Ikhsan kerap diliputi rasa khawatir akan kondisi kesehatan sang nenek di Medan. Namun, perasaan itu justru menjadi sumber motivasi terbesarnya.
Ia bertekad bekerja lebih keras agar bisa menembus skuad utama PSIM dan tampil di layar televisi nasional, sehingga sang nenek dapat menyaksikan perjuangannya.
“Saya sering takut membayangkan kalau suatu saat hidup tanpa nenek. Karena itu saya ingin terus berjuang dan membanggakan beliau,” ucap jebolan Persiraja Banda Aceh U-18 itu.
Ia pun menutup ceritanya dengan ungkapan penuh haru.
“Terima kasih, Nenek, atas semua perjuangan dan doa selama ini. Nenek dan mama adalah dua orang paling penting dalam hidup saya. Sampai sekarang, mereka selalu mendukung saya dalam kondisi apa pun,” pungkas Ikhsan Chan.
