Bayangan kegagalan di tikungan terakhir musim kembali menyelimuti langkah Arsenal. Setelah beberapa musim terakhir harus merelakan trofi melayang akibat kehilangan momentum di pekan-pekan penentuan, kekhawatiran serupa kini mulai terasa lagi di kalangan suporter.
Padahal, perjalanan The Gunners di ajang Premier League musim 2025-2026 sempat terlihat begitu meyakinkan. Sejak pekan ketujuh pada awal Oktober, Arsenal kokoh di puncak klasemen dan tampil konsisten saat para pesaing justru tersendat. Ritme permainan yang stabil, pertahanan yang solid, serta lini depan yang produktif membuat mereka tampak sebagai kandidat terkuat peraih gelar.
Situasi semakin menguntungkan ketika dua rival utama, Liverpool dan Manchester City, mengalami periode inkonsistensi. Liverpool beberapa kali kehilangan poin di laga yang seharusnya bisa dimenangkan, sementara City kesulitan menjaga performa akibat jadwal padat dan persoalan cedera pemain. Arsenal memanfaatkan kondisi itu dengan baik, memperlebar jarak dan menegaskan dominasi mereka di puncak.
Memasuki awal Januari, pasukan asuhan Mikel Arteta bahkan telah menciptakan keunggulan tujuh poin atas Manchester City yang menjadi pesaing terdekat. Margin tersebut terasa signifikan, terutama mengingat konsistensi Arsenal sepanjang paruh pertama musim. Banyak pengamat menilai keunggulan itu cukup untuk menjadi fondasi kuat menuju gelar liga pertama mereka dalam dua dekade terakhir.
Namun, sejarah baru-baru ini membuat optimisme itu dibarengi rasa waswas. Dalam dua musim sebelumnya, Arsenal juga sempat memimpin klasemen cukup lama sebelum akhirnya disalip di fase krusial. Tekanan mental, kedalaman skuad, dan pengalaman dalam perburuan gelar sering kali menjadi pembeda saat memasuki 10 laga terakhir.
Gejala yang sama mulai terlihat. Beberapa pertandingan terakhir menunjukkan penurunan intensitas dan efektivitas serangan. Lini belakang yang sebelumnya sulit ditembus mulai kehilangan fokus dalam momen-momen penting. Di sisi lain, para pesaing perlahan menemukan kembali konsistensi mereka, membuat jarak poin berpotensi terpangkas sewaktu-waktu.
Arteta berulang kali menegaskan bahwa timnya kini lebih matang dibanding musim-musim sebelumnya. Ia menilai para pemain telah belajar dari kegagalan dan siap menghadapi tekanan. Rotasi skuad yang lebih cermat serta manajemen kebugaran menjadi fokus utama demi menjaga performa tetap stabil hingga akhir musim.
Meski demikian, ujian sesungguhnya baru akan datang saat kalender memasuki fase penentuan. Setiap kehilangan poin bisa menjadi momentum bagi rival untuk mengambil alih posisi teratas. Arsenal kini tak hanya dituntut tampil konsisten secara teknis, tetapi juga kuat secara mental.
Apakah musim ini akan menjadi akhir dari cerita pahit di garis finis, atau justru mengulang skenario lama? Jawabannya akan ditentukan dalam beberapa pekan mendatang, ketika tekanan semakin memuncak dan karakter sejati calon juara benar-benar diuji.
