Banjir Pemain Naturalisasi di BRI Super League, Pengamat: Sulit Bersaing di Eropa

BRI Super League 2025/2026 mengalami lonjakan pemain naturalisasi. Kepulangan para diaspora ini ke kompetisi domestik dikhawatirkan bisa menurunkan kualitas individu mereka sekaligus membatasi kesempatan bagi pemain lokal hasil akademi.

Baru-baru ini, pada bursa transfer kedua musim ini, Persija dan Persib seolah adu gengsi dalam mendatangkan pemain naturalisasi. Macan Kemayoran mengamankan Shayne Pattynama, sementara Ivar Jenner dirumorkan segera menyusul. Di sisi lain, Dion Markx bergabung dengan Maung Bandung bersama mantan pemain PSG, Layvin Kurzawa. Kedua pemain tersebut resmi menandatangani kontrak selama 2,5 musim.


Perspektif Pengamat

Pengamat sepak bola senior asal Makassar, Toni Ho, menilai langkah klub Super League mengontrak pemain naturalisasi lebih dipicu oleh faktor komersial.

“Klub Super League ini menjalankan hukum dagang. Sebagai ‘produk’, klub harus bisa menarik perhatian dan menghasilkan pemasukan besar. Secara bisnis, pemain naturalisasi punya nilai jual tinggi di mata sponsor. Suporter pun makin tertarik datang ke stadion,” kata Toni Ho.


Kualitas Menurun?

Namun dari sisi kualitas, Toni Ho menilai kepulangan pemain naturalisasi ke Liga Indonesia justru bisa menurunkan kemampuan mereka.

“Tujuan naturalisasi sebetulnya untuk kepentingan Timnas Indonesia. Kita lakukan karena mereka bermain di Liga Eropa yang kualitasnya tinggi, sehingga bisa mengangkat prestasi Timnas. Kalau sekarang mereka bermain di Tanah Air, saya khawatir malah menurunkan kualitas mereka,” jelasnya.

Menurut Toni, hal ini terjadi karena standar kompetisi domestik masih jauh di bawah level regional ASEAN dan Asia.

“Kalau PSSI dan klub ingin meningkatkan peringkat di level internasional, seharusnya merekrut pemain asing kelas A, bukan menarik pemain naturalisasi pulang,” tambahnya.


Sulit Bersaing di Eropa

Toni Ho menilai kepulangan pemain naturalisasi menandakan mereka sudah sulit bersaing di Liga Eropa.

“Saya lebih salut dengan Marselino Ferdinan dan Elkan Baggott. Mereka terus berjuang di Eropa meski peluang jadi starter sangat terbatas. Kalau pemain naturalisasi bermain di Super League, artinya mereka tak lagi diminati klub Eropa. Dengan popularitasnya, mereka akan mudah masuk starting XI di kompetisi Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Toni menyoroti usia pemain naturalisasi yang masih relatif muda, yang bisa membatasi kesempatan pemain lokal untuk berkembang.

“Bagi klub, merekrut pemain naturalisasi lebih pragmatis dan cepat menghasilkan finansial dibanding mengorbitkan pemain lokal. Seharusnya klub punya tanggung jawab melahirkan talenta muda dari akademi, agar muncul banyak pemain lokal berkualitas untuk Timnas Indonesia,” tuturnya.

Mungkin Anda Menyukai