Perjalanan Como 1907 di kancah Serie A musim ini menghadirkan cerita yang unik. Di satu sisi, mereka menuai pujian berkat gaya bermain terbuka dan agresif. Namun di sisi lain, pendekatan tersebut justru membuat posisi mereka di papan klasemen tergelincir hingga keluar dari zona kompetisi Eropa.
Klub yang dimiliki pengusaha asal Indonesia itu menjelma menjadi salah satu tim paling menghibur di Liga Italia. Setiap pertandingan Como hampir selalu menghadirkan intensitas tinggi, tempo cepat, serta keberanian dalam membangun serangan sejak lini belakang. Identitas permainan yang jelas membuat mereka disukai banyak pengamat dan penikmat sepak bola netral.
Di balik perubahan wajah Como musim ini, ada sentuhan pelatih muda mereka, Cesc Fabregas. Mantan gelandang elegan tersebut menanamkan filosofi menyerang yang berani. Ia mendorong anak asuhnya untuk tidak sekadar bertahan dan menunggu, melainkan aktif menekan, menguasai bola, dan menciptakan peluang sebanyak mungkin.
Pendekatan itu sempat membuahkan hasil luar biasa. Como mencatat beberapa kemenangan mencolok atas tim-tim besar. Mereka sukses menaklukkan Lazio dengan skor meyakinkan 2-0 dan 3-0 dalam dua pertemuan berbeda. Tak berhenti di situ, raksasa seperti Juventus juga dibuat tak berdaya lewat kemenangan 2-0. Bahkan Torino pernah dihajar setengah lusin gol tanpa balas dalam laga yang benar-benar menunjukkan keganasan lini depan I Lariani.
Kemenangan-kemenangan tersebut sempat mengangkat Como ke persaingan papan atas dan membuka peluang tampil di kompetisi Eropa musim depan. Publik mulai membicarakan mereka sebagai kuda hitam yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Namun, konsekuensi dari permainan terbuka mulai terasa ketika konsistensi menjadi masalah. Dengan garis pertahanan tinggi dan fokus menyerang, Como beberapa kali kecolongan dalam situasi transisi. Lawan-lawan yang mampu memanfaatkan ruang di belakang lini belakang sukses mencuri poin penting. Hasil-hasil minor itulah yang perlahan menggerus posisi mereka hingga terlempar dari zona Eropa.
Meski demikian, manajemen dan tim pelatih diyakini tidak ingin buru-buru mengubah identitas yang sudah terbentuk. Bagi Como, musim ini bukan hanya soal posisi akhir di klasemen, tetapi juga tentang membangun fondasi jangka panjang. Gaya bermain atraktif dianggap sebagai investasi untuk masa depan, sekaligus cara memperkuat karakter tim.
Fabregas sendiri tetap percaya pada pendekatannya. Ia menilai keberanian mengambil risiko adalah bagian dari proses menuju level yang lebih tinggi. Dengan skuad yang relatif muda dan terus berkembang, Como masih memiliki ruang untuk memperbaiki keseimbangan antara menyerang dan bertahan.
