Jakarta – Barcelona kembali dihadapkan pada kisah berulang mengenai masa depan pemain akademinya. Nama Pedro “Dro” Fernandez kini menjadi sorotan setelah sang pemain muda dikabarkan mendorong kepindahan, dengan Paris Saint-Germain disebut sebagai tujuan favoritnya.
Situasi tersebut kembali menegaskan satu realitas penting: La Masia adalah sistem pembinaan yang menuntut kesabaran. Tidak semua pemain muda sanggup bertahan mengikuti jalur perkembangan yang telah disiapkan klub, meski jalur tersebut sering kali dirancang untuk jangka panjang.
Godaan menit bermain instan, kontrak besar, atau percepatan karier kerap menjadi alasan hengkang. Namun sejarah menunjukkan bahwa meninggalkan ekosistem La Masia terlalu cepat justru berisiko membuat perkembangan pemain kehilangan arah.
Gai Assulin, Potensi Besar yang Tak Terwujud
Gai Assulin bergabung dengan akademi Barcelona pada 2003 dan dengan cepat menarik perhatian sebagai salah satu prospek paling menjanjikan. Teknik tinggi, visi bermain, serta kepercayaan dirinya membuat ia sering disejajarkan dengan Lionel Messi di level usia muda.
Pada 2010, Assulin memutuskan meninggalkan Barcelona untuk mencari peluang bermain bersama Manchester City. Ia berharap mendapatkan jam terbang lebih banyak demi mempercepat kematangan kariernya.
Namun, realita berkata lain. Karier Assulin berjalan tanpa stabilitas, berpindah-pindah klub, dan kesulitan beradaptasi di lingkungan baru. Ia tak pernah benar-benar menemukan ritme, hingga akhirnya menghilang dari radar sepak bola papan atas Eropa.
Marc Guiu, Perkembangan yang Tersendat
Marc Guiu mulai menimba ilmu di La Masia sejak 2013 dan berkembang konsisten di berbagai kelompok usia. Gol yang ia cetak pada debut bersama tim utama sempat memunculkan keyakinan bahwa Barcelona memiliki calon penyerang masa depan.
Kekhawatiran akan minimnya kesempatan bermain mendorong Guiu menerima tawaran Chelsea pada 2024, dengan nilai transfer sekitar 6 juta euro atau setara Rp103,2 miliar. Di luar sistem pembinaan yang selama ini menopangnya, ia kesulitan mendapatkan menit bermain yang stabil.
Alih-alih berkembang pesat, proses pertumbuhannya justru melambat. Keputusan yang diambil terlalu cepat membuat progres yang sebelumnya menjanjikan tidak berjalan sesuai harapan.
Ilaix Moriba, Masa Depan yang Kehilangan Arah
Ilaix Moriba bergabung dengan La Masia pada 2010 dan lama dipersiapkan sebagai pilar lini tengah Barcelona. Pada 2021, ia sudah tampil reguler di laga-laga penting dan mendapat banyak pujian berkat kekuatan fisik serta dinamismenya.
Konflik kontrak dan tuntutan finansial akhirnya membawanya hengkang ke RB Leipzig dengan nilai transfer sekitar 16 juta euro plus bonus. Sejak kepergian tersebut, karier Moriba diwarnai ketidakpastian, mulai dari peran terbatas hingga serangkaian masa peminjaman.
Di Barcelona, ia menikmati kepercayaan dan stabilitas yang mendukung perkembangan. Setelah pergi, fondasi tersebut hilang, bersamaan dengan menurunnya grafik performa dan konsistensi.
Kini, rencana kepindahan Dro ke PSG kembali menjadi pengingat bahwa La Masia bukan sekadar batu loncatan karier. Sistem ini juga berfungsi sebagai penyangga penting bagi pemain muda. Dalam banyak kasus, bertahan mungkin terasa berat, tetapi justru menjadi pilihan paling rasional untuk masa depan jangka panjang.
